09 March 2022, 17:30 WIB

NasDem Jawa Timur Gelar Latihan Penyelamatan


Faishol Taselan |


SEBANYAK 161  pemuda dari Barisan Reaksi Cepat (Baret) Rescue DPW Partai NasDem Jawa Timur, menjalani pelatihan sebagai regu penolong.

Pendidikan dan pelatihan digelar selama 10 hari, dimulai sejak Jumat 2-11 Maret 2022 di Laguna Wego, Kabupaten Lamongan. Beragam jenis pelatihan yang diberikan instruktur dari Basarnas Jatim, TNI, Polri, BPBD, Orari, rescue satwa hingga PMI.

"Sesuai instruksi Ketua Umum Partai NasDem Bapak Surya Paloh,
kerja-kerja politik harus dibarengi dengan kerja-kerja kemanusian," ujar Ketua DPW Partai NasDem Sri Sajekti Sudjunadi, Rabu (9/3).

Perempuan yang biasa disapa Kakak Jes ini menerangkan, banyak gunung
berapi aktif di wilayah Jawa Timur, dan potensi bencana alam seperti
banjir, tanah longsor. Jika terjadi musibah atau bencana, maka Partai
NasDem bisa menjalankan misi kemanusiaan.

"Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang dapat memberikan manfaat bagi sesama," tuturnya.

Selama mengikuti pelatihan, peserta Diklatsar Baret Rescue harus bangun
pagi-pagi dari tenda barak, untuk menjalani latihan fisik. Bukan hanya
sekedar berlari di hutan, tetapi juga berenang di telaga sejauh 100
meter untuk melatih otot, termasuk sebagai pelatihan pertolongan korban
di air.

Selanjutnya, para relawan ini juga dibawa ke area hutan jati. Mereka
berlatih membawa korban dengan menaikkan atau menurunkan korban dari
tebing setinggi 20 meter. Termasuk pertolongan di darat, ketika
mendapati korban yang sudah tidak dapat bergerak.

Garda Pemuda NasDem

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Panitia Diklatsar Baret Rescue Garda
Pemuda NasDem Jawa Timur Deny Prasetya mengungkapkan, tujuan utama
digelarnya diklatsar rescue tersebut sebagai pembelajaran bagi Garda
Pemuda NasDem memahami penanganan teknik dan taktis tentang aksi tanggap bencana baik di darat hingga air.

"Kami tidak mengharapkan ada bencana, tapi kesiapsiagaan dan kewaspadaan wajib dilakukan. Ini salah satu alasan kami menyiapkan relawan yang siap diterjunkan kapan saja. Ini misi kemanusiaan," ujarnya.

Kegiatan tersebut merupakan terobosan pertama yang dilakukan partai
NasDem. Terlebih juga atas intruksi Ketum NasDem Surya Paloh agar NasDem bisa semakin dekat dengan masyarakat.

"Pelatihan ini bukan terkait simulasi saja, melainkan semacam praktek
langsung saat terjadi bencana. Sehingga, mengetahui bagaimana cara
assesment dan evakuasi. Apalagi, saat malam hari, kita juga diterpa
badai angin kencang. Jadi, latihan sekaligus praktek," imbuhnya.

Menurut dia, selama ini jika terjadi bencana maka tim dari NasDem Jatim
turun ke lokasi, namun diakuinya belum memiliki kepemahaman terkait
rescue atau penyelematan secara mendalam.

Dari pelatihan tersebut, kata Deny, diharapkan relawan semakin memiliki
kemampuan dan teknis-teknis sesuai standar penyelamatan.

Sementara salah satu peserta berasal dari Kabupaten Jember, Helmy
Samrudiansyah mengaku merasa benar-benar dituntut menjadi petugas Baret
yang profesional. Sebab,  pelatihan Diklatsar cukup berat bagi dia dan
rekan-rekannya. Namun disisi lain, dirinya mengakui jika taktik dalam
pertolongan rescue sangat dibutuhkan baik untuk kelompok maupun
individu.

"Alhamdulillah, tadinya kita Pemuda Garda Nasdem yang sangat lemah dalam manajemen dan kekompakan. Selama enam hari di sini, telah terbentuk jiwa korsa, jiwa persatuan, dan memiliki wawasan kebangsaan, wawasan kenasdeman. Sehingga, kami memiliki jiwa kemanusiaan yang siap menolong orang," katanya.

Selain materi penyelamatan, banyak kesan yang didapatkan selama empat
hari menjalani diklat tersebut. Mulai dengan penguatan mental, hingga
memahami karakter teman.

"Awalnya, pada hari pertama sampai hari ketiga, kami merasa dongkol
karena kami disuruh-suruh, dibentak-bentak, dan dimarahi. Tapi,  semakin  lama kami semakin sadar bahwa kemanusiaan itu butuh mental, disiplin dan sikap yang kuat untuk bisa mengatasi segala apapun medannya," jelasnya.


Bantu Basarnas

Sementara itu, Koordinator Pelatihan Basarnas Brian Gautama mengaku pihaknya sangat menyambut baik  upaya NasDem untuk ikut serta berpartisipasi dalam aksi tanggap bencana.

"Kami pun juga merasa terbantu sekali. Ketika ada informasi pertama
dalam sebuah kejadian, bahwa rekan-rekan baret rescue ini dapat menjadi
pioner-pioner pertama di lapangan," katanya.

Peserta dibekali pemahaman berbagai materi seperti Medical First
Responder (MFR) atau cara memberi pertolongan pertama pada korban, lalu
Water Rescue yakni penyelamatan di permukaan air.

"Inikan juga pelatihan dasar pertolongan pertama. Nah, ketika ada
kecelakaan, mereka sudah siap dengan pertolongan apa yang harus
dilakukan. Kemudian bisa menyampaikan informasi secara detail, sehingga
kami atau tim bisa membawa peralatan apa yang nanti dibutuhkan ketika
datang ke lokasi kejadian," ujarnya.

Selain itu, juga ada materi High Angle Rescue Technique (HART) yang
melatih bagaimana menolong korban melalui dinding gedung atau tebing,
termasuk pelatihan untuk memperkuat fisik serta mental.

Tidak dipungkiri, lanjutnya, sejauh ini ketika terjadi bencana, banyak
muncul tenaga sukarela terjun ke lokasi. Sayangnya, terkadang
diantaranya ada yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga
justru malah membebani.

"Artinya begini, sebelum bisa menolong orang, kita harus bisa menolong
diri sendiri. Jangan sampai kita mau menolong, malah ikut terjebak
menjadi korban," ujarnya.

Dari pembekalan materi tersebut, pihaknya berharap Baret Rescue mampu
berkolaborasi dengan Tim SAR dalam aksi penyelamatan tanggap bencana.

"Tentunya ketika kami melepaskan kepercayaan kepada potensi-potensi yang sudah terlatih ini, kami akan merasa lebih nyaman dan tidak was-was lagi. Artinya, potensi-potensi baret rescue ini sudah sesuai dengan
prosedur," ujarnya. (N-2)

BERITA TERKAIT