07 March 2022, 17:29 WIB

Satu Sirine Tsunami di Bengkulu Rusak


Marliansyah |

SATU dari tiga sirene tsunami di Bengkulu tidak berfungsi atau dalam keadaan rusak. Sirene itu tepatnya berada di Pantai Panjang, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Fatmawati Bengkulu Anang Anwar mengatakan satu dari tiga sirene tsunami di lokasi objek wisata Pantai Panjang rusak atau tidak berfungsi.

"Kerusakan satu sirene baru diketahui beberapa waktu lalu diketahui saat aktivasi sirene tsunami yang dilakukan petugas BMKG," kata Anang.

Sebanyak tiga sirene yang ada, lanjut dia, berada di kawasan objek wisata Pantai Panjang, di perkantoran Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Bengkulu dan di depan Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Provinsi Bengkulu.

Untuk aktivasi sirene berada di kawasan Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bengkulu. Selain itu, kontrol tombol guna mengaktivasi ketiga sirene tersebut berada di Pusat Pengendalian Operasional (Pusdaops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu.

Sebelumnya, sebanyak dua sirene merupakan alat peringatan dini tsunami yang berada di Kota Bengkulu, di Kelurahan Padang Harapan dan Berkas, di kawasan Pantai Panjang, dalam keadaan rusak.

Meskipun rusak, deteksi dini peringatan gempa dan tsunami tetap termonitor di Geofisika BMKG Kepahiang. Untuk itu, BMKG telah mengantisipasi peringatan dini melalui broadcast sms maupun group whatsapp dan via media sosial untuk disampaikan ke masyarakat jika ada potensi gempa yang berdampak pada munculnya gelombang tsunami.

Baca juga:  BMKG Bengkulu Pasang Tiga Sirine Tsunami Baru

Namun hal tersebut malah jadi kendala bagi masyarakat yang tidak memiliki alat komunikasi yang memadai. Selain itu, ada enam kabupaten lainnya yang juga rawan bencana gempa dan tsunami yang membutuhkan alat peringatan dini. Enam kabupaten yang membutuhkan sirene tsunami yakni pesisir Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Kaur, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Seluma.

Selanjutnya, pulau terluar seperti Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, juga membutuhkan alat sirene tsunami untuk sistem peringatan dini bagi 3.000 jiwa masyarakat di pulau itu. Sebanyak dua unit sirene yang ada di Kota Bengkulu, dikendalikan oleh petugas di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu, tapi dapat diambilalih oleh BMKG jika 11 menit setelah gempa petugas BPBD Bengkulu belum mengaktifkan.

Untuk pemeliharaan alat tersebut, petugas BPBD secara rutin melakukan tes dengan mengaktifkan alat tersebut setiap bulannya pada tanggal 26. Provinsi Bengkulu termasuk dalam daerah rawan gempa bumi dan tsunami karena berada di pertemuan lempeng aktif Indoaustralia dan Eurasia.(OL-5)

BERITA TERKAIT