04 March 2022, 21:25 WIB

Sistem Pemupukan Berimbang Selamatkan Petani Bawang dari Penyakit Inul


Mediaindonesia.com |

MUSIM tanam saat curah hujan tinggi biasanya menjadi tantangan bagi petani bawang merah. Varietas tersebut kerap diserang jamur fusarium yang bisa merusak bawang hingga menyebabkan gagal panen. 

Namun hal itu tidak terjadi di lahan H. Kardah, petani bawang merah asal Desa Silih Asih, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tanaman bawang di lahannya tidak terpengaruh jamur fusarium, bahkan bisa melewati musim hujan dan menghasilkan panen dengan baik. 

Maklum, Kardah mengaplikasikan sistem pemupukan berimbang dari Pupuk Indonesia. Sejak awal Januari 2022, Kardah mengikuti demplot dan mengaplikasikan pupuk organik, urea, NPK, dan NKP cair, baik subsidi maupun nonsubsidi. 

"Dengan pemupukan berimbang, hasil panen sangat baik. Umbinya tumbuh cukup besar dan ada kenaikan panen," kata Veronika Trisna Sukmawati, VP Pengendalian Operasi Pemasaran  Wilayah Barat Pupuk Indonesia, usai panen bawang dengan petani, Jumat (4/3). 

Veronika berharap keberhasilan demplot di lahan Kardah bisa dirasakan petani lain. Dengan pemupukan berimbang, bertani lebih hemat dan efisien. "Karena tidak memupuk berlebihan, modal tanam lebih hemat, tetapi hasilnya justru lebih baik," ungkap Veronika. 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Asep Pamungkas menuturkan sistem pemupukan berimbang Pupuk Indonesia berpotensi menghasilkan panen bawang hingga mencapai 1,5 ton dari luasan 650 meter persegi. "Artinya, dalam satu hektare berpotensi menghasilkan panen hingga 24 ton. Padahal dengan cara lama, biasanya 15 ton. Ini berarti sistem pemupukan berimbang bisa meningkatkan produktivitas," kata Asep. 

Kardah mengatakan demplot di lahannya melalui pemupukan berimbang bisa menghasilkan umbi bawang yang padat dan berat. Padahal lahannya kerap diguyur hujan lebat. "Alhamdulillah, kombinasi pupuk subsidi dan nonsubsidi Pupuk Indonesia bisa membuat bawang merah tetap panen di musim hujan. Padahal biasanya musim hujan waktu yang dihindari petani untuk menanam bawang," ujar Kardah. 

Saat musim hujan, ketika kelembapan tinggi, kerap muncul fungi atau jamur yang membuat daun bawang menjadi rebah. "Petani di sini menyebutnya penyakit inul, karena menyebabkan daun bawang rebah dan seperti muter-muter," kata Kardah. 

Soal penyakit inul, Kardah punya pengalaman pahit pada 2017. Saat musim hujan awal tahun, ia nekat menanam bawang di lahan seluas 3 hektare. Di lahan seluas itu, ia sampai merogoh kocek hingga Rp500 juta untuk modal tanam. Namun, bawang merah di lahannya diserang penyakit inul. Waktu itu, Kardah memaksakan menanam bawang ketika musim hujan dan memupuknya dengan pupuk impor. Harapannya, ketika bawang langka, ia bisa menyediakan bawang dan dibeli dengan harga tinggi. 

"Nyatanya saya mengalami gagal panen. Saat itu hanya untung Rp60 juta. Saya sempat down saat itu dan mulai tidak percaya pada pupuk impor," kata Kardah. Sejak saat itu, Kardah mengaku trauma menanam bawang ketika musim hujan. Begitu pun saat mengikuti demplot Pupuk Indonesia awal tahun ini. "Saat ikut demplot ini deg-degan juga. Namun melihat bawang tumbuh tegak, akhirnya lega juga," kata Kardah. 

Baca juga: Kasus Aktif Covid-19 di Sulteng Dekati Angka 5.000

Bahkan, hasil panen yang baik saat ini bisa membuat Kardah senang, sebab harga bawang cukup tinggi. "Di tingkat petani, harga bawang mencapai Rp20 ribu per kilogram. Hasil panen ini tentu membahagiakan," tuturnya. "Melihat hasil panen ini, saya sarankan untuk menggunakan produk buatan Pupuk Indonesia saja." (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT