22 February 2022, 21:36 WIB

Tolak Aturan ODOL, Ratusan Truk dan Pickup Blokir Tol Cipularang


Depi Gunawan |

RATUSAN supir truk dan pickup melakukan aksi blokir Tol Cipularang, Selasa (22/2) untuk menolak kebijakan pemerintah terkait pembatasan dan pelarangan truk overdimension overloading (ODOL), Selasa (22/2). Dampaknya, jalur tol dari arah Bandung menuju Jakarta maupun sebaliknya macet total karena para sopir memarkirkan kendaraan truknya di tengah jalan.

Aksi pemblokiran dilakukan di beberapa titik sepanjang Tol Cipularang sehingga masyarakat umum pemakai tol lainnya menjadi terganggu. Polisi terpaksa turun tangan untuk membubarkan aksi para sopir yang datang dari berbagai wilayah di Bandung Raya ini.

"Jadi kami sebagai driver di Jawa Barat, meminta hak kami supaya ditanggapi secara normal. Tuntutannya kami minta kebijaksanaan dalam muatan," kata perwakilan sopir, Agus Ardianto ditemui di exit Tol Cikamuning, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, malam ini.

Agus mengatakan, muatan angkutan yang berlebih sehingga masuk kategori angkutan odol bukan keinginan mereka tetapi tuntutan dari pengusaha, sebab mereka hanya bertugas mengangkut barang ke tempat yang dituju.

"Karena ini bukan keinginan kami tapi yang punya barang. Menuntut kami harus membawa barang segitu, kalau tidak berani jadi kami tidak ada muatan," tuturnya.

Dia menegaskan, pihaknya tidak berniat menghambat pengguna kendaraan
lainnya dengan menggelar aksi di tol. "Perlu dicatat di sini, tujuan kami bukan menghambat tapi kami ingin aspirasi cepat ditanggapi dan masalah ini cepat selesai. Jadi aksi itu sebetulnya spontanitas dan kesepakatan bersama," ucap Agus.

Setelah mediasi cukup alot antara perwakilan sopir, kepolisian dan Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung Barat, aksi para sopir pun berhenti sekitar pukul 20.00 WIB dan mereka membubarkan diri dengan tertib.

Di tempat yang sama, Dirlantas Polda Jabar, Kombes Pol Romin Thaib mengungkapkan, aksi para sopir menimbulkan kemacetan di Tol Cipularang selama beberapa saat. "Jalan tol agak terhambat karena terjadi pengurangan kecepatan. Kita ajak sopir yang dituakan untuk koordinasi dan negoisasi," ungkapnya.

Dia menjelaskan, para sopir menuntut toleransi terkait aturan odol tetapi pihaknya menyampaikan bahwa aturan ini diterapkan demi keselamatan pengendara.

"Dengan hadirnya odol membuat keselamatan bagi pengemudi dan pengendara lain terganggu dan akan terjadi faktor lain, seperti (gangguan) faktor ekonomi kalau terjadi kecelakaan," ucapnya.

Setelah diberikan pemahaman, para sopir sepakat bahwa mereka akan terus berkomunikasi bersama kepolisian ketika terjadi sesuatu di jalan dan mereka juga akan lebih sopan ketika berkendara.

Pemerintah rencananya memberlakukan secara penuh pelarangan angkutan mobil barang yang over dimension dan overload (odol) mulai 2023. Sehingga tak boleh lagi ada mobil angkutan barang dengan tambahan aksesori berlebihan, serta modifikasi bentuk dan ukuran yang tidak seharusnya. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT