19 February 2022, 13:10 WIB

Kiai dan Ulama Berperan Strategis Gelorakan Cinta Tanah Air


mediaindonesia.com |

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar memandang para kiai dan ulama, khususnya di lembaga pendidikan keagamaan, berperan strategis bersama pihaknya untuk menggelorakan semangat kebangsaan dan rasa cinta Tanah Air kepada santri.

"Pesantren membangun semangat cinta Tanah Air, 'hubbul wathan minal iman' (cinta Tanah Air sebagian dari iman)," ujar Boy Rafli seperti dilansir Antara di Jakarta, Sabtu (19/2).

Dengan demikian, menurutnya, hal tersebut dapat bermanfaat untuk menanggulangi penyalahgunaan narasi-narasi keagamaan oleh jaringan radikalis dan teroris dalam rangka menarik simpati serta menjerumuskan masyarakat Indonesia agar menjadi bagian dari mereka.

"Kita paham mengenai narasi-narasi yang dibangun oleh jaringan radikal dan teroris. Salah satunya, mengangkat narasi yang berkaitan dengan agama," tuturnya.

Lebih lanjut, Boy Rafli pun menyampaikan sejumlah kiai dan ulama terdahulu telah membantu menggelorakan semangat cinta Tanah Air sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan.


Baca juga: Pagoda Nusantara, Wisata Religi Simbol Toleransi Umat Beragama di Babel


Hal itu, ujar dia, dilakukan oleh mereka untuk menjaga kesatuan bangsa Indonesia dengan membangun semangat kebangsaan.

"Seperti yang dicontohkan oleh para kiai dan ulama yang salah satunya, KH Muhammad Hasyim Asy'ari," ucap mantan Kapolda Papua itu.

Berkenaan dengan peran strategis kiai dan ulama itu, BNPT di tahun ini senantiasa mengupayakan pencegahan dan penanggulangan terorisme dengan konsep pentahelix atau kolaborasi multipihak. Salah satunya diwujudkan melalui penguatan kerja sama dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama.

Langkah itu telah ditempuh oleh BNPT melalui silaturahim kebangsaan di dua pesantren di Pasuruan, Jawa Timur, yakni Pesantren Sidogiri pimpinan KH Ahmad Fuad Noerhasan dan Pesantren Ngalah pimpinan KH Sholeh Bahruddin, pada Rabu (16/2) lalu.

Selanjutnya, BNPT berkomitmen untuk mengajak lebih banyak pihak agar dapat bekerja sama dan berkolaborasi melalui konsep multipihak (pentaheliks), termasuk lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, serta para pemuka agama dan pesantren. (Ant/S-2)

BERITA TERKAIT