13 February 2022, 23:30 WIB

Warga Tiga Desa di Sikka Usir Tikus dengan Ritual Adat Selama Lima Hari 


Gabriel Langga |

WARGA tiga desa yang ada di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengusir tikus dengan ritual adat. Hal ini dikarenakan hama tikus menyerang tanaman pertanian dan perkebunan warga setempat. 

Tiga desa yang menggelar ritual adat usir tikus selama lima hari ini yakni Desa Kesokoja, Desa Maluriwu dan Desa Reruwairere yang terhitung mulai 11 Februari sampai 15 Februari 2022. 

Ketua lembaga adat Desa Reruwairere Petrus Fidelis Cawa mengatakan, saat ini tanaman pertanian dan perkebunan yang ada di tiga desa mulai dimakan oleh tikus. Selain tanaman pertanian dan perkebunan, pakaian dan sarung milik warga juga dimakan oleh tikus. Untuk itu, kata dia, warga tiga desa itu menggelar ritual adat usir tikus atau dalam bahasa daerah tersebut disebut Tu Dheu. 

"Tikus ini sudah merajalela. Ini tanda-tanda alam. Jadi jalan satu-satunya harus menggelar ritual adat agar tikus tidak menyerang tanaman warga setempat. Acara ritual ini gelar selama lima hari," papar dia, Minggu (13/2). 

Dia menjelaskan dalam ritual adat semua warga wajib ikut terlibat untuk mendukung proses ritual adat ini demi keberlangsungan hidup manusia. 

"Jadi semua warga harus terlibat mulai dari tua-tua adat, mosalaki, anak muda dan sebagainya," papar dia. 

Dikatakan Fidelis lagi dalam ritual adat ini, tiga desa itu wajib membawa tikus yang diisi dalam bambu yang dalam bahasa daerah disebut "Rata". 

"Jadi di dalam bambu yang berukuran 30 Centimeter harus diisi tikus. Selanjutnya, tikus-tikus yang di bambu itu diletakan di sampan. Kemudian, sampan tersebut dilepas di laut bersama tikus-tikus tadi," paparnya. 

Baca juga : 

Ia menuturkan dalam proses ritual adat usir tikus ini biasanya ada warga yang membunyikan musik pukul gendang sambil sejumlah orang menari. Penari mengenakan pakaian adat, sarung hitam di padu baju merah, kepala di ikat kain merah, sambil memegang tombak dan menari. 

Lanjut Fidelis, usai sampan yang tadi bersama tikusnya dilepas di laut, nantinya selama hari kedepannya mulai dari 15 sampai 20 Februari 2022, tidak ada aktivitas kerja dan tidak boleh ada keramaian atau bunyi-bunyian di tiga desa tersebut. 

"Ritual ini mirip dengan suasana nyepi di Bali. Yang mana selama lima hari masyarakat tidak boleh aktivitas. Bunyi-bunyi apapun dilarang. Jadi lima hari itu benar benar sepi dalam aktivitas," ungkap dia. 

Dia menjelaskan, ritual adat tersebut merupakan warisan dari leluhur. Pelaksanaan adat ini biasanya dilakukan dalam waktu lima tahun sekali, tetapi terkadang bergeser waktunya tetapi untuk tahun ini digelar pada Februari 2022. 

Menurut dia, hama tikus tersebut tidak bisa dibasmi dengan cara melakukan penyemprotan tetapi apabila sudah dilakukan upacara adat, maka secara perlahan tikus itu akan hilang dengan sendirinya. 

"Ritual ini ingin menyampaikan pesan kepada tikus agar jangan merusakkan tanaman masyarakat maupun dalam bentuk gangguan tikus lainnya," ungkap dia. 

Di akhir wawancara, ia juga berpesan kepada generasi berikut jangan sekali-sekali meninggal budaya adat istiadat kita. 

"Generasi harus menjaga keutuhan dan kesempurnaan ritual adat ini dan jangan melanggar tata cara ritual adat ini. Dengan kita menghormati ritual ini berarti kita menghormati warisan leluhur yang telah menciptakan sebagai budaya tolak bala atau ritual adat usir tikus. Yang mana tikus-tikus ini telah menyusahkan manusia," pungkas Fidelis. (OL-7)

BERITA TERKAIT