09 February 2022, 19:49 WIB

PUS di Kabupaten Cianjur yang Jadi Akseptor KB Aktif Sudah 77,08%


Benny Bastiandy/Budi Kansil |

KEIKUTSERTAAN pasangan usia subur (PUS) sebagai akseptor KB aktif di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sudah mencapai kisaran 77,08%. Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) setempat pun terus menggenjot agar PUS yang belum menjadi akseptor bisa segera melaksanakannya.

Kepala DP2KBP3A Kabupaten Cianjur, Heri Supardjo, menjelaskan jumlah PUS di Kabupaten Cianjur sekitar 163 ribu pasangan. Masih terdapat sekitar 88 ribu PUS yang belum menentukan kebutuhan pilihan sebagai akseptor aktif.

"Masih ada PUS sekitar 22,92% yang dikategorikan unmet need atau belum menentukan metode KB yang dibutuhkan. Jumlahnya sekitar 88 ribuan," kata Heri, Rabu (9/2).

Bagi Heri, masih ada PUS yang belum mementukan kebutuhan pilihan tentu menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tugas dan peran penyuluh KB akan lebih dimaksimalkan agar ke depan bisa mencapai target capaian akseptor KB. "Mudah-mudahan bisa secepatnya kami menuntaskan PUS yang dikategorikan unmet need ini," terang Heri.

Akseptor aktif di Kabupaten Cianjur cukup bervariatif menggunakan alat kontrasepsi atau metode kontrasepsi jangka panjang. Misalnya pasektomi, tubektomi, IUD, maupun implan. "Ada juga yang durasinya jangka pendek, misalnya untuk satu bulan atau tiga bulan seperti suntikan. Ada yang lebih pendek lagi seperti kondom," tuturnya.

Kategori PUS, kata Heri, di kisaran usia 15-45 tahun dengan indikator untuk kalangan perempuan. Kalau untuk kalangan lelaki, di atas usia 45 tahun masih bisa dikategorikan produktif.

"Kalau perempuan kan dilihat dari masa kesuburan. Kalau di atas usia 45 tahun rata-rata perempuan itu sudah menopause. Tapi ada juga perempuan yang usianya di atas 45 tahun belum menopause," ungkapnya.

Heri menuturkan KB merupakan kebijakan program strategis nasional dalam rangka pengendalian penduduk. Di antaranya strateginya yakni meningkatkan dan memantapkan akseptor KB, meningkatkan potensi desa untuk KB, dan mendorong terbentuknya Kampung KB.

"Kalau tiga strategi ini sudah terealisasi, maka program Keluarga Berencana itu sudah bisa mandiri karena sudah bisa dilaksanakan masyarakat bawah," sebutnya.

Salah satu tempat di Kabupaten Cianjur dijadikan sebagai Kampung KB rujukan tingkat nasional. Lokasinya berada di Kecamatan Sukanagara. "Namanya Kampung KB Pelangi. Di sana semua program berjalan dengan lancar," pungkasnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT