25 January 2022, 21:14 WIB

Jembrana akan Gantikan Kegiatan Coffee Morning dengan Chocolate Morning


Arnoldus Dhae |

PEMERINTAH Kabupaten Jembrana berencana menggantikan kegiatan Coffee Morning dengan Chocolate Morning. Menurut Bupati Jembrana I Nengah Tamba, selama ini cokelat hasil fermentasi yang dibawa ke user baru sedikit atau bahkan bukan hasil fermentasi.

Pemkab Jembrana berkeinginan agar bisa mengolah biji cokelat secara langsung baru kemudian dilempar ke user. Sebab ketika biji cokelat diolah lagi maka harganya akan semakin mahal, nilai cokelat akan meningkat, petani akan semakin sejahtera. Namun, karena sampai saat ini Pemkab Jembrana belum mampu mengolah biji cokelat, maka yang diekspor dan dijual keluar adalah produk biji kakao secara mentah.

"Maunya kita adalah cokelat yang ada diolah dulu. Cokelat hasil olahan itulah yang dijual. Selain lebih mahal, juga bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi," ujar Nengah Tamba.

Menurut Tamba, cokelat asal Jembrana itu memiliki kualitas terbaik di luar negeri. Ini adalah hasil penelitian dari beberapa negara dan bukan rekayasa dari Jembrana.

"Kualitas terbaik dunia itu hasil uji coba dan penelitian dari beberapa negara. Bukan oleh Jembrana. Untuk itu, UMKM di Jembrana sudah melakukan pengolahan produk cokelat dengan hasilnya sudah bisa digunakan. Nantinya, bila ini sudah diolah, Jembrana akan menggantikan Coffee Morning dengan Chocolate Morning. Setiap tamu, pejabat, acara resmi, akan disuguhkan cokelat. Bukan kopi lagi. Tentu saja dengan kualitas tinggi," tuturnya.

Baca juga: Wakasal Mulai Pembangunan Maritime Food Estate Jembrana

Saat ini, yang ada di warung-warung, restoran hanya kopi saja sehingga sering disebut Coffee Morning. Bila sudah maju, cokelat akan menjadi sajian utama di Jembrana untuk menunjukkan Jembrana memiliki cokelat berkualitas tinggi.

Beberapa UMKM sudah mengolahnya. Bila sudah maju maka akan diolah melalui Perumda. Produk cokelat kemasan siap saji akan dihasilkan oleh UMKM dan akan dijual oleh Perumda. Kemasan bungkus akan dibranding Cokelat Jembrana kemudian akan diekspor.

Saat ini produksi cokelat Jembrana secara keseluruhan sebanyak 4 ribu ton. Dari jumlah tersebut hanya 70 ton yang difermentasi baru dijual ke beberapa negara. Namun branding-nya tidak ada.

"Sekarang pun kalau kita ke Australia, Belgia, Jepang, saat disuguhi cokelat, ternyata itu asal Jembrana," ucapnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan BI akan melakukan pembinaan UMKM di Jembrana yang mengolah produk cokelat.

"Ini perlu sinergi antara BI, Pemda Jembrana, petani coklat dan pelaku UMKM. Tanpa sinergi hal ini tidak bisa jalan, tidak bisa mengembangkan produk unggulan asal Jembrana ini," ujarnya.

Ia meminta Pemkab Jembrana melalui Perumda untuk membeli semua cokelat dari petani. Sehingga petani tidak takut lagi apakah cokelatnya laku terjual atau tidak. Petani diwajibkan memproduksi cokelat secara profesional dan berkualitas.

"Kalau pemda yang beli, maka petaninya tidak khawatir lagi. Mereka tinggal produksi saja. Mengolah dan menjualnya itu urusan Perumda," pungkas Trisno.(OL-5)

BERITA TERKAIT