23 January 2022, 12:30 WIB

Kasus DBD di Kota Bandung Meningkat


Naviandri | Nusantara

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat meminta masyarakat untuk waspada Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah dan memberantas sarang nyamuk. Sebab kasus DBD mengalami peningkatan sejak Januari 2022.

Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Ira Dewi Jani mengatakan peningkatan tersebut terlihat dari laporan yang dikumpulkan puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kota Bandung.

"Jika dilihat dari data yang dikumpulkan puskesmas dan rumah sakit, memang kasus DBD di Januari 2022 ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, pada Desember 2021)," kata Ira di Bandung, kemarin.

Namun, dia tidak menyebutkan berapa angka kasus DBD di Kota Bandung hingga hari ini, karena angka kasus akan direkap setiap bulan sekali.

Kasusnya meningkat, tapi angka kematian ujar Ira, jika dibandingkan dengan periode waktu yang sama tahun lalu lebih sedikit. Berdasarkan  data yang ada di Dinkes Kota Bandung selama tahun 2021 ada 3.743 kasus DBD dengan 13 di antaranya meninggal dunia.

Adapun usia rentan terkena DBD berada di golongan usia 5 sampai 14 tahun. Golongan ini juga yang paling banyak korban meninggal berjumlah 4 orang selama tahun 2021. "Sedangkan untuk data kasus bulan sebelumnya atau Desember 2021, jumlah kasus DBD di Kota Bandung mencapai 695 kasus dengan 2 orang meninggal dunia. Kasus di bulan Desember terbilang lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya di tahun 2021," terangnya.

Beragam upaya dilakukan Dinkes Kota Bandung untuk mencegah dan menangani masyarakat penderita DBD. Untuk langkah penanganan, pihaknya sudah mengumpulkan rumah sakit hingga puskesmas guna memberikan surat kewaspadaan akan kasus DBD. Terus memastikan ada reagen di faskes supaya kalau ada DBD bisa di deteksi secara dini.

"Selain itu kami juga mengingatkan warga Bandung untuk waspada akan penularan DBD. Gerakan 3M plus, terus abatisasi jadi harus komprehensif," ujarnya.

DBD itu lanjut Ira,  ada virusnya lalu ada vektornya, vektor itu pembawanya, jadi kalau misalnya ada yang DBD tapi tidak ada nyamuknya itu tidak akan menular, karena menular via perantara nyamuk. Lalu ada nyamuk tapi tidak ada virusnya juga sama tidak menular. Jadi caranya adalah menghilangkan nyamuknya dan virusnya juga.

Kepolisian Bergerak

Sementara itu untuk mengantisipasi kasus DBD, seluruh polsek yang ada di Kota Bandung melakukan fogging serentak. Langkah ini sebagai upaya cegah munculnya nyamuk penyebab demam berdarah. Seperti di Polsek Bandung Wetan, fooging dilakukan di wilayah sekitar polsek seperti pemukiman, pasar dan kelurahan.

"Sesuai perintah Kapolrestabes Bandung dalam rangka mengantisipasi terjadinya DBD yang akhir-akhir ini meningkat, kita melaksanakan fogging yang dilakukan secara serentak di 28 polsek," kata Kapolsek Bandung Wetan, Kompol Asep Saepudin di Bandung, Sabtu (22/1).

Asep menyebut, prioritas fogging pencegah nyamuyk Aedes Aegypty itu dilakukan di kantor pelayanan publik, seperti di polsek, pasar, kecamatan, kelurahan, dan koramil. Untuk di Polsek Bandung Wetan ini telah dilakukan fooging di tiga lokasi, yakni di area polsek, Pasar Cihapit dan Kelurahan Cihapit. Di wilayah Bandung Wetan, sudah ada beberap warga yang terjangkit DBD.

"Sudah ada beberapa orang yang terkena DBD, alhamdulillah tidak sampai fatal. Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga sanitasi dan kebersihan. Kegiatan fooging ini rencananya akan dilakukan hingga tiga bulan ke depan," lanjutnya. (OL-13)

Baca Juga: Mahasiswi Akper Lela Maumere, Kuliah Sambil Jualan Pisgor

 

BERITA TERKAIT