21 January 2022, 09:35 WIB

Perubahan Pendekatan dan Operasi TNI-Polri di Papua Diapresiasi


Mediaindonesia.com | Nusantara

PERUBAHAN pendekatan dan operasi dalam menangani konflik di Papua dari pendekatan militer menjadi pendekatan humanis dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat, mendapat apresiasi dari Aliansi Mahasiswa dan Milenial Indonesia (AMMI). Koordinator AMMI, Nurkhasanah, menyampaikan bahwa langkah pemerintah dan aparat kemananan yang tidak lagi mengutamakan pendekatan militer merupakan terobosan yang baik dalam menyelesaikan masalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Kelompok Separatis Teroris (KST) di Papua.

"Saya mengapresiasi perubahan pendekatan dan operasi dalam menangani konflik di Papua. Seperti penerapan Operasi Damai Cartenz  dari Polri dan terakhir dilengkapi dengan Operasi Rasaka Cartenz serta TNI yang kembali menjalankan tugas pokok seperti halnya di daerah lain, diharapkan banyak anggota KKB yang dapat diedukasi dan kembali ke lingkungan masyarakat dengan normal," ujar Nurkhasanah dalam keterangannya, Jumat (21/1).

Baca juga: 18 Anak Muda Papua Belajar Beternak di Karanganyar

Ia juga menyampaikan, dengan penanganan konflik di Papua melalui pendekatan lunak yang mengedepankan rasa kemanusiaan merupakan bukti keseriusan pemerintah merangkul rakyat dengan kasih dalam pangkuan Ibu Pertiwi.

"Dengan metode aparat yang bertugas tidak lagi melakukan penyerangan terlebih dahulu terhadap KKB, diharapkan dapat menimbulkan kesadaran dari masyarakat bahwa keberadaan TNI-Polri di Bumi Cendrawasih adalah murni membawa kedamaian demi menjaga keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat Papua," tegasnya.

Namun Nurkhasanah menyayangkan ulah oknum KKB. Karena disaat aparat keamanan menerapkan pendekatan yang humanis dan mengutamakan kesejahteraan rakyat, masih ada kejadian penyerangan terhadap anggota TNI di Maybrat, Papua Barat yang menyebabkan satu prajurit gugur dan empat lainnya terluka.

"Kami kecewa terhadap KKB yang tetap melakukan kekerasan penyerangan kepada anggota TNI, padahal saat itu para prajurit sedang dalam perjalanan menuju lokasi jembatan yang diputus KKB, untuk membangun kembali jembatan permanen bagi akses warga kampung menuju tengah kota Maybrat," ungkapnya.

Nurkhasanah berharap, dengan melakukan cara bertindak dan pendekatan baru yang lebih mengedepankan pendekatan humanis dan preventif dari personel TNI-Polri akan mengurangi korban akibat konflik di Bumi Cendrawasih itu, termasuk masyarakat sipil.

"Mudah-mudahan aparat keamanan dapat bertugas dengan optimal sehingga bisa menjawab persoalan yang terjadi di Tanah Papua khususnya gangguan kekerasan bersenjata. Selain itu, dapat meningkatkan kepercayaan rakyat Papua terhadap pemerintah," tegasnya.

Sebalumnya, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menyampaikan sejumlah kebijakan baru ihwal penanganan wilayah Papua. Di antaranya, memerintahkan seluruh satuan tugas TNI di Papua kembali menjalankan tugas pokok dan fungsi organik. "Presiden sudah sejak awal menginginkan kegiatan di Papua ini benar-benar normal," ujar Andika dikutip kanal YouTube Puspen TNI, Sabtu, (4/12).

Sementara itu, Polri juga resmi melakukan perubahan operasi militer di Papua dari Operasi Nemangkawi menjadi Operasi Damai Cartenz 2022 yang beroperasi di lima wilayah yang rawan serangan KKB dengan operasi mengedepankan pendekatan preemtif dan preventif.

Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan total personel gabungan yang diterjunkan dalam operasi Operasi Damai Cartenz ini mencapai 1.925 personel. Ia merincikan 1.825 di antaranya merupakan personel Polri, sedangkan 101 lainnya berasal dari TNI.

Selain itu, Polri juga meluncurkan Operasi Rastra Samara Kasih (Rasaka) Cartenz yang digelar di 23 wilayah zona aman KKB. Operasi ini mengedepankan pendekatan persuasif dan preventif yang tidak melibatkan Satuan Tugas dan Penegakan Hukum, melainkan sepenuhnya hanya pembinaan masyarakat. (Ant/A-1)

 

BERITA TERKAIT