14 January 2022, 11:50 WIB

Disabilitas di Kudus Cari Nafkah Olah Limbah Kayu jadi Barang Seni


Jamaah | Nusantara

SEORANG pemuda penyandang disabilitas asal Kudus Jawa Tengah, manfaatkan limbah kayu mebel yang tak terpakai menjadi sebuah kerajinan yang bernilai jual berupa patung hingga ukiran wajah dari kayu. Ialah Sulikin warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten kudus, dalam benaknya hanya terus semangat dan berkreatifitas.

Saat ditemui Media Indonesia dirumahnya, kemarin, Sulikin masih sibuk mengerjakan asbak pahatan tangan. Dengan alat sederhana hingga kini Sulikin sudah telah membuat beragan patung kayu tokoh pewayangan, ukiran kayu wajah Sunan Kalijaga, hingga ukiran kayu wajah Presiden pertama Indonesia Sukarno.

"Sudah tiga tahunan belajar otodidak pahat kayu ini. Tapi untuk sketsa wajah kayu baru 3 bulan, belajar sendiri juga," kata Ulik sapaannya.

Untuk membuatnya, Ulik menceritakan satu unit wajah atau patung pahatan atau ukiran kayu ia membutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat hari. Sementara untuk asbak berukuran kecil atau ukiran yang tak begitu rumit dua hari bisa diselesaikannya.

Selain dengan peralatan sederhana yang ia beli dari mengumpulkan uang, bahan kayu yang ia gunakan menggunakan kayu jati yang dibeli dari limbah mebel, kemudian dipilah terlebih dahulu.

"Dari selama ini yang aku kerjakan, ukiran bergambar semar yang banyak diminati dari saya," ujar pria kelahiran 1996.

Karya Sulikin tersebut dijual dengan harga mulai Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Harga tergantung dari ukuran serta kerumitan ukiran pahatan kayu yang dikerjakan. "Jika ada tawaran costum pesan wajahnya, saya juga siap coba kerjakan," terangnya.

Selama ini karya Ulik sudah terjual di sekitaran Kota Kudus. Biasanya mereka datang dari pelanggan yang pernah pesan darinya.

Belum mampu maksimal memasarkan secara online maupun posting di media soaial menjadi salah satu kendala yang ia alami. "Setelah ada modal, selain alat-alat, juga mau beli handphone yang bisa maksimalkan pemasaran," harapnya.

Sementara ditanya terkait, kondisi fisiknya ia menceritakan sejak kecil sudah alami keterbatasan fisik. Untuk beraktifitas ia gunakan kursi roda lantaran kakinya tak kuat menopang beridiri tubuhnya. Untuk beraktifitas sehari-hari menggunakan kuris roda maupun berjalan dibantu dengan tangan.

Menurut dokter dirinya menderita rapuh tulang kaki, sehingga waktu kecilsering kali patah. "Pernah lihat foto kecil aku usia 3 tahun, biasa-biasa saja. Kemudian setelah itu sering jatuh terus patah tulang gitu terus. Sampai akhirnya sekarang saya begini, tapi tetap semangat mas," ungkap pria anak tunggal asli Desa Kutuk.

Ulik menambahkan, hanya ingin mandiri membahagiakan kedua orang tua selagi masih diberi kesempatan. "Terus semangat dan berkarya untuk orang tua," tambahnya. (OL-13)

Baca Juga: Baru Kelar 2021, Proyek TPT Jalan Provinsi Pangaribuan-Garoga Ambruk

 

BERITA TERKAIT