06 January 2022, 23:55 WIB

UGM Kembangkan Drone Pemantau Kebakaran Lahan dan Hutan


Agus Utantoro |

PARA peneliti di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, kini terus menyempurnakan pesawat tanpa awak atau drone yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kebakaran hutan dan lahan sejak dini. Drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle) rancangan UGM ini mampu melakukan aktivitasnya baik siang maupun malam hari.

Ketua Tim Peneliti di Prodi Teknik Mein, Fakultas Teknik UGM, Dr. Gesang Nugroho, S.T., M.T., Kamis menjelaskan, pesawat tanpa awak yang sedang dikembangkan ini mampu terbang dan memantau hingga 200 kilometer serta melakukan pemantauan secara autonomous. ''Pesawat tanpa awak yang kami beri nama Elang Caraka ini mampu terbang terus menerus selama enam jam,'' katanya.

Operator pengendali di Ground Control Station, katanya, akan dapat melihat gambar rekaman secara langsung melalui layar monitor yang ada di pusat kendali.
  
Gesang menambahkan, pengembangan pesawat tanpa awak ini akan menjadi solusi mencegah meluasnya kebakaran hutan. ''Beberapa tahun belakangan kawasan hutan Indonesia mengalami penyusutan, sebagian besar disebabkan peristiwa kebakaran hutan dan pembalakan liar. Kondisi geografis, medan lahan gambut yang luas, kurangnya akses jalan, terbatasnya sumber daya manusia, dan minimnya fasilitas menimbulkan masalah yang cukup besar di dalam melakukan pemantauan dan pemadaman dini kebakaran,'' katanya.

Selama ini pendeteksi titik api di hutan dilakukan dengan patroli udara menggunakan helikopter. Namun penggunaan helikopter memakan biaya yang tinggi dan hanya bisa dilakukan siang hari.

Ketika terjadi kebakaran di malam hari, api sudah terlanjur membesar pada keesokan hari sehingga sulit untuk dipadamkan.

Elang Caraka memiliki bentang sayap 3,6 meter dan badan pesawat sepanjang 1,92 meter, serta dilengkapi kamera thermal untuk mengirimkan rekaman udara secara langsung yang dapat dilihat di darat.

Pesawat ini menggunakan mesin dengan kapasitas 30cc digunakan untuk menerbangkan pesawat Elang Caraka yang berbobot 20 kilogram. Dan pesawat ini hanya memerlukan landasan sepanjang 90 meter untuk lepas landas dan mendarat.Pesawat ini, lanjutnya, dapat mendeteksi kebakaran dengan sensor cerdas Electrical Nose (Enose) yang mampu mendeteksi adanya asap yang ditunjukkan oleh meningkatnya grafik output dari sensor cerdas dibanding 
dengan kondisi normal tanpa asap. ''Enose bekerja seperti halnya hidung manusia, menggunakan larik sensor 
gas yang mampu mendeteksi asap tersebut,'' kata Gesang.

Penelitian pesawat tanpa awak ini sendiri dimulai dengan tahap perancangan dengan aplikasi desain tiga dimensi, manufaktur, hingga uji terbang. ''Elang Caraka melakukan uji terbang hingga dapat melakukan misi secara sempurna,'' imbuhnya.

Pesawat tanpa awak Elang Caraka yang mampu dioperasikan baik siang maupun malam diharapkan mampu mendeteksi dini kebakaran dan tim pemadam dapat melakukan pemadaman secara langsung sebelum titik api membesar dan semakin luas.

''Selain itu, biaya operasional pesawat tanpa awak Elang Caraka juga jauh lebih murah dibandingkan menggunakan helikopter. Sehingga diharapkan kehadiran pesawat tanpa awak Elang Caraka mampu menekan angka karhutla yang ada di Indonesia,'' katanya. (AU/OL-10)
 

BERITA TERKAIT