04 January 2022, 19:12 WIB

Anomali Cuaca Munculkan Embun Beku di Dieng Muncul


Lilik Darmawan |

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang, Jawa Tengah  (Jateng) menyatakan bahwa telah terjadi anomali sehingga memunculkan embun beku atau embun upas di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara pada musim penghujan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Objek Wisata Dieng Sri Utami mengatakan bahwa embun upas atau embun beku muncul pada Selasa (4/1)
pagi. "Selasa pagi, embun upas atau embun beku, muncul jam 05.30  WIB. Ini memang berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Sebab, biasanya embun beku muncul pada musim kemarau," jelas Sri Utami.

Terkait dengan kemunculan embun beku, Stasiun Meteorologi BMKG Semarang menyatakan bahwa kemunculan embun beku merupakan anomali. "Kemunculan embun beku pada musim penghujan merupakan anomali. Sebab, massa udara pada saat musim penghujan umumnya lembab dan basah serta pengaruh Monsun Asia cukup besar," kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang Sutikno dalam rilis tertulis yang diterima.

Menurutnya, fenomena embun upas sebenarnya merupakan fenomena yang biasa di bidang meteorologi. Pada umumnya, katanya, fenomena ini terjadi pada saat puncak kemarau pada Juli hingga Agustus. Namun demikian, bisa muncul di musim penghujan tahun ini yaitu pada tanggal 4 Januari 2022.

Dijelaskan Sutikno, berdasarkan pantauan BMKG dari data Automatic Weather Station (AWS) yang terpasang di kawasan Candi Arjuna, dalam tiga hari belakangan ini memang kondisi cuaca di wilayah pegunungan Dieng di dominasi kondisi cerah berawan sehingga pemanasan cukup maksimal.

"Pada 1-4 Januari 2022, curah hujan yang rendah di bawah 1 mm, dengan tutupan awan sedikit. Sementara kelembapan udara terjadi perbedaan yang sangat signifikan pada siang hari yang rendah sekitar 75% dan malam hingga dini hari mencapai di atas 98%, dengan kecepatan angin cenderung lemah," ungkapnya.

Sutikno menerangkan, embun upas biasa terjadi akibat pengaruh menurunnya temperatur terhadap ketinggian. “Untuk wilayah dengan vegetasi yang bagus dengan tutupan tanaman rendah potensi terjadi embun upas cukup besar," ujar dia.

Hal itu terjadi, lanjut Sutikno, karena adanya pusat tekanan rendah di belahan bumi selatan katulistiwa. Selain itu, pola angin yang terbentuk di wilayah Jateg divergen atau menyebar, sehingga pembentukan awan tidak maksimal dan kecepatan angin cenderung lemah.

"Selain itu, dinamika atmosfer lokal di kawasan Dieng dalam rentang waktu 1-4 Januari 2022, kondisinya mendukung terjadinya embun upas karena hampir serupa saat musim kemarau. Dengan kondisi dinamika atmosfer seperti ini potensi terjadinya kabut yang bisa meningkat menjadi embun upas sangat besar terjadi," tambahnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT