08 December 2021, 15:04 WIB

Bupati Luncurkan Nagekeo The Heart Of Flores


Ignas Kunda | Nusantara

MENDUKUNG pengembangan pariwisata di Pulau Flores dan menciptakan pariwisata baru di Pulau Flores selain Labuan Bajo dengan keindahan alam dan komodonya, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, meluncurkan tagline Nagekeo The Heart of Flores, Rabu (8/12). Ini untuk memperkenalkan kabupaten yang berada di tengah pulau Flores ini ke mata dunia internasional. 

Pada acara peluncuran tersebut juga didampingi Bupati Ende, Djafar Achmad. Sebelum peluncuran sejumlah produk ditampilkan pada sejumlah pengunjung. Produk unggulan ini berasal dari desa-desa pada sejumlah kecamatan di kabupaten Nagekeo, di antaranya Kopi Leder dari Desa Legu Deru, Kopi Ebulobo Desa Lajawajo, keripik pisang, sirup pala dari Pajoreja, keripik talas dari Desa Wuliwalo, aneka keripik dari ubi, aneka olahan daun kelor dari Desa Marapokot, serta minyak kemiri dari Desa Lewangera. 

Selain itu beberapa tarian tradisional seperti Toda Gu yang ditampilkan oleh sejumlah pelajar SMP dan alat musik tradisonal Suwito dari desa Ululoga. Menurut Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, peluncuran tagline ini tidak sekadar peluncuran dan gegap gempita tetapi sudah dikaji secara seksama, baik secara ilmiah, budaya, maupun sejarah atau historis selama 2 tahun. 

Don mengatakan secara topografi kabupaten Nagekeo tepat berada di tengah Pulau Flores dan ini tentu sangat menguntungkan buat kabupaten ini. Don menjelaskan secara budaya, Nagekeo memiliki keberagaman budaya. Ada tiga budaya seperti di dataran utara Mbay, tengah Boawae, serta pantai selatan Ma'u, dengan ritual dan tata cara adat yang berbeda serta tarian. Belum lagi sejumlah kampung adat yang kearifan, keaslian, dan filosofinya masih terpelihara dengan baik sehingga keunggulan budaya ada di Nagekeo. 

Selain itu, secara bentang alam ada gunung berapi di sisi selatan yang subur dengan aneka rempah dari pala, cengkih, buah, serta sabana, dengan ternak sapi dan domba di bagian utara. "Nagekeo persis berada di tengah. Nagekeo memiliki beberapa alasan topografi, budaya ada tiga yang besar, ditambah dengan budaya yang beririsan di timur ada Toto yang beririsan dengan Ende. Secara histori, Jepang sudah melihat tempat ini sangat strategis seperti gua Jepang, bandara yang dinamai Jepang dengan nama Surabaya 2. Ini daerah yang diperhitungkan, 1 dari 3 bandara yang dibangun Jepang di Indonesia selain Morotai. Soal tenunan ada tiga pola dasar, yakni telo poi, songket dhowik, hoba nage. Ada banyak tarian adat dan ritual adat yang berbeda. Datang ke Nagekeo sudah melihat Flores sesungguhnya," jelas Don. 

Don juga menambahkan ada keragaman alam, gajah purba atau stegedon, tiga ring di Nagekeo yang punya kekuatan sendiri, baik alam serta religi, seperti Ebulobo dan Amagelu. Don menilai potensi itu harus diberi tagline agar orang lebih mengingat Nagekeo. Ini membangun Nagekeo yang nyaman dan sejahtera melalui pertanian dan pariwisata. 

Tanggung jawab besar sebagai orang Nagekeo yaitu harus bisa menunjukkan keragaman dan kreativitas anak-anak Nagekeo ke panggung Flores dan dunia. Karena itu, Don mengungkapkan akan terus mendorong anak-anak muda untuk menulis agar Nagekeo lebih dikenal, seperti Bangka Belitung yang diangkat penulis terkenal Andrea Hirata. "Semua harus dinarasikan dengan baik seperti gajah purba serta rempah berlimpah di bagian selatan. Dengan semakin banyak anak muda menulis, Nagekeo akan dikenal dunia," ungkapnya. 

Baca juga: Uskup Sensi: Masa Depan Flores Ada di Utara

Bupati Ende, Djafar Achmad, menyatakan sangat mengapresiasi yang dilakukan Kabupaten Nagekeo dan berharap bisa membangun kerja sama antardua kabupaten ini sehingga Flores bagian tengah juga dikenal dunia. "Saya mengapresiasi Kabupaten Nagekeo, karena Kabupaten Nagekeo ialah jantungnya Flores dan kami Ende ialah salurannya," pungkas Djafar. (OL-14)

BERITA TERKAIT