05 December 2021, 10:32 WIB

Uskup Sensi: Masa Depan Flores Ada di Utara


Ignas Kunda |

SETELAH penantian panjang selama 2 tahun, umat Katolik di Wewoloe, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT akhirnya berhasil menjadi sebuah paroki defenitif. 

Uskup Agung Ende Mgr Sensi Potokota meminta umat agar selalu penuh harapan, cinta kasih, dan percaya diri dalam persekutuan hidup dalam menjalankan kehidupan berparoki dengan sebuah vaksin cinta kasih di hari-hari mendatang mendatang mengingat masa depan Pulau Flores ada di bagian sisi utara pulau ini. 

Uskup Sensi meresmikan dan menetapkan stasi Santa Lusia Weoloe, yang sebelumnya hanya sebagai kuasi Wewoloe, menjadi sebuah paroki defenitif Santu Yohanes 23 Wewoloe, Minggu (5/12). 

Baca juga: Warga Lembata Antusias Ikut Vaksinasi Covid-19 di KP3 Laut

Paroki Santu Yohanes 23,  dimekarkan dari paroki induk Stela Maris Danga dengan jumlah jiwa sebanyak 3,400, dari sekitar 700-an kepala keluarga. 

Disaksikan jurnalis Media Indonesia, peresmian berlangsung dengan perayaan misa yang dipimpin oleh Uskup Sensi, dengan dihadiri ribuan umat dengan penuh khidmat. 

Terlihat sebagian besar umat dari laki-laki hingga perempuan menggunakan sarung tenun Dhowik Mbay, sebagai busana khas. 

Dalam perayaan tersebut juga ditetapkan Pastor Rd Martinus Dominggus Bu'u Nuka, sebagai pastor paroki dan pelantikan anggota dewan pastoral gereja. 

Uskup Sensi, dalam kotbahnya, mengatakan masa Adven, yang kini sedang dijalani umat Katolik di seluruh dunia, sebagai masa penantian  terasa menggembirakan dan sebuah berkat karena dengan bimbingan Roh Allah akhirnya sebuah stasi yang telah menanti selama 2 tahun akhirnya terwujud menjadi sebuah paroki. 

Mgr Sensi juga mengungkapkan ada pesan di balik penantian panjang ini bahwa ternyata Tuhan yang kita imani dengan cara kita masing-masing adalah Allah yang setia. 

"Tuhan menganugerahkan kita sebuah kebaikan tepat pada waktunya pada masa adventus. Masa penantian andalah sesuatu yang khas Masa penantian umat Wewoloe pada dua tahun terakhir ini tidak sia-sia, hal ini  ditanggapi Tuhan dengan penetapan stasi menjadi paroki defenitif. Ini Tuhan menghargai masa penantian kuasi paroki ini menjadi paroki mandiri. Kita tidak salah pilih. Allah yang diperkenalkan Yesus. Kesetiaan umat tidak akan sia-sia sesuai janji Allah dengan Abraham, " katanya. 

Selain itu, Mgr Sensi juga berpesan kepada umatnya di Wowoloe, yang juga menjadi sebuah paroki di wilayah utara Flores bahwa ketika sudah menjadi paroki ada tanggung jawab besar serta pekerjaan besar yang harus dilakukan umat karena masa depan pulau Flores ada di wilayah bagian utara sehingga umat Katolik harus menjadi garda terdepan dalam membangun masa depan pulau Flores yang penuh harapan, cinta kasih dan kepercayaan diri. 

"Ketika kita sudah menjadi paroki defenitif, Tuhan masih memberikan pekerjaan, ratakan lekukan jalan, ini sebagai bahasa simbol, tantangan untuk kita adalah : Dalam kehidupan sehari segala gejala kehidupan sosial, jangan kita kehilangan harapan maka selalu memperkuat persekutuan paroki Santu Yohanes, persekutuan harus selalu dengan cinta kasih sebagai yang utama. Kita harus divaksin dengan cinta kasih, kita boleh beda suku, namun dengan cinta semua menjadi lebih cair, ini bukan teori. Vitamin cinta kasih sebagai vaksin untuk persekutuan umat. Kehilangan cinta kasih akan menghancurkan segalanya. 
Kita memperkokoh budaya cinta kasih dalam keseharian kita. Percaya diri dibutuhkan sebagai fondasi. Jadilah paroki yg percaya diri, percaya pada potensi yang ada, percaya pada kasih Tuhan. Jangan pernah meremehkan martabatnya kita sebagai mata bijinya Allah yang membuat kita percaya diri.  Masa depan Flores ada di utara. Tidak boleh lengah. Mari kita bekerja sama, membentengi diri yang kita yakini membawa kita ke masa jaya." paparnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT