30 November 2021, 11:23 WIB

Relawan HaloPuan Gelar Kegiatan Melawan Stunting di Kota Tasikmalaya


mediaindonesia.com | Nusantara

RELAWAN HaloPuan, lembaga sosial milik Ketua DPR RI Puan Maharani, terus melanjutkan program mereka yang diberi nama Gerakan Melawan Stunting. Kali ini, gerakan untuk mencegah stunting itu dillaksanakan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pada Senin (29/11), sekitar 200-an warga, terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui bersama balita mereka, dan kader-kader Posyandu mengikuti kegiatan penyuluhan gizi dan bahaya stunting di Graha Pawestri, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya.

Mereka mendapatkan informasi tentang apa itu stunting dan bagaimana mengatasinya dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasiona (BKKBN) Kota Tasikmalaya.

Mereka juga memperoleh informasi tentang manfaat super bubuk daun kelor sebagai alternatif makanan tambahan bagi kaum ibu dan balita dari HaloPuan.

Lurah Tawangsari Rohman mengatakan gizi buruk tidak hanya bisa terjadi di golongan bawah tapi juga menengah ke atas karena ini bergantung kepada pengetahuan dan kesadaran. Dia pun sangat mendukung Gerakan Melawan Stunting HaloPuan. 

“Apalagi ini dikaitkan dengan mengolah daun kelor yang lebih kita kenal untuk mengobati orang kesurupan. Padahal yang kesurupan mah yang enggak makan bergizi," ucap Rohman sambil bercanda.

Camat Tawang, yang diwakili Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat, Asep Sakti Nugraha, menyatakan melawan stunting sudah menjadi program kecamatan.

"Tapi, masalah ini tak akan tuntas tanpa partisipasi masyarakat. Pola asuh dan pola makan yang baik menjadi faktor penting yang diharapkan dari masyarakat," ujar Asep.

Jadi, menurutnya, gerakan HaloPuan ini menjadi penting, terlebih karena melibatkan kader-kader posyandu di Kecamatan Tawang.

Perwakilan perempuan dari DPRD Kota Tasikmalaya, Eti Guspitawati memaparkan bahwa selama pandemi, angka kejadian stunting di Kota Tasikmalaya naik sampai 17,5% atau lebih daripada 7.000 balita.

Jika turun ke daerah-daerah pemilihannya, Eti mengatakan banyak menemukan masalah asupan bergizi. “Ibu-ibu banyak yang belum tahu betul apa itu stunting,” ujar Eti yang antara lain terpilih dari Kecamatan Tawang.

Oleh karena itu, dia mengapresiasi inisiasi HaloPuan dengan Gerakan Melawan Stunting. “Saya berharap kegiatan sosialisasi ini tidak hanya sekali, tapi bisa berkelanjutan.” 

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tasikmalaya sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Muslim, menyampaikan bahwa Tasikmalaya adalah salah satu kota termiskin di Jawa Barat.

"Angka kemiskinan kota ini meningkat dari 11 persen ke 13 persen gara-gara pandemi. “Ini tantangan bagi kita semua, bukan hanya bagi pemerintah,” ujarnya.

Muslim memuji inisiasi Puan Maharani dalam melawan stunting. “Dari 500-an lebih anggota DPR RI, siapa sih yang peduli dengan stunting dan gizi buruk, kecuali Ibu Puan.”

Maka itu, dia menjelaskan, DPP PDI Perjuangan menginstruksikan setiap anggota DPRD di kabupaten dan kota untuk memonitor perkembangan penurunan angka stunting di satu desa. “Di PDI Perjuangan, kami wajib pegang satu kelurahan untuk memonitor soal stunting ini.”

Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kota Tasikmalaya, Nunung, mengatakan Gerakan Melawan Stunting yang dimotori HaloPuan telah mempermudah tugasnya. Sebab, dinasnyalah yang dibebani tugas menekan angka stunting.

“Saya senang Ibu Puan begitu antusias memperhatikan stunting. Angka stunting di Indonesia kini 27 persen. Bagaimana Indonesia bisa menikmati bonus demografi pada 2045 kalau anak-anak kita tidak bebas stunting,” katanya.

Sementara itu, relawan HaloPuan, Poppy Astari, menjelaskan alasan mengapa Puan Maharani melalui HaloPuan sangat memperhatikan masalah stunting.

Menurut Poppy, stunting bukan sekedar masalah anak gagal tumbuh, sehingga pendek dan sangat pendek.

"Lebih daripada itu, stunting bisa membuat bangsa Indonesia kehilangan generasi, atau lost generation, di masa depan. Sebab, anak-anak stunting akan mengalami kesulitan dalam belajar dan bekerja saat dewasa," paparnya.

Poppy juga mengatakan, Puan Maharani menyadari bahwa stunting tak bisa diatasi oleh pemerintah semata, tapi membutuhkan peran masyarakat.

"Kita harus menyadari bahwa stunting merupakan masalah kronis, yang berarti berlangsung dalam periode waktu yang panjang. Stunting bisa datang dalam 1000 hari pertama kehidupan anak-anak jika kita tak serius memperhatikan keseimbangan asupan gizi dan nutrisi mereka dalam jangka waktu itu," papar Poppy..

“Jika dalam dua tahun, kita tak melakukan apa-apa dalam memperbaiki asupan gizi, maka kondisi stunting bisa tak tertangani,” katanya.

Oleh karena itu, dia bilang, kegiatan ini menjadi penting karena memberi informasi betapa penting asupan gizi seimbang bagi kaum ibu dan balita dalam periode 1000 hari tersebut. Informasi ini penting diketahui, bukan hanya oleh kaum ibu tapi juga kaum bapak.

Selain itu, Poppy juga mengatakan Puan Maharani menggali gagasan dari warga dengan memperkenalkan bubuk daun kelor sebagai alternatif makanan tambahan super bagi ibu dan balita.

Kelor sebenarnya banyak tumbuh di tanah Nusantara, tapi belum banyak dimanfaatkan, padahal daun kelor sudah diakui oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO sebagai salah satu makanan super karena kekayaan nutrisinya.

Daun kelor menurut sejumlah penelitian mengandung tujuh kali vitamin C pada jeruk, empat kali vitamin A pada wortel, dua kali protein pada yoghurt, empat kali kalsium pada susu, dan tiga kali potasium pada pisang.

Selain itu, bubuk daun kelor telah digunakan untuk melawan stunting di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasilnya luar biasa.

Melalui program Solor atau “Sorgum dan Kelor, Bupati Flores Timur Antonius Hadjon berhasil menurunkan angka stunting di wilayahnya dari 41 persen pada 2017 menjadi 22 persen pada 2020.(RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT