29 November 2021, 17:13 WIB

Jabar Tetapkan Tanggap Darurat untuk Tangani Banjir Bandang di Garut


Naviandri | Nusantara


PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari untuk menangani daerah yang terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Garut yang mencakup Kecamatan 
Sukawening dan Karangtengah.

"Kami akan mengadakan tindakan tanggap darurat, yaitu membereskan dulu material yang menghalangi aktivitas masyarakat," kata Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum di Bandung Senin (29/11). Uu yang sudah meninjau langsung bencana banjir bandang di Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, pada Minggu (28/11), menuturkan pemerintah daerah langsung melakukan tindakan cepat setelah mendapatkan informasi bencana banjir bandang melanda permukiman penduduk.

"Pemerintah provinsi dan Kabupaten Garut menetapkan status tanggap darurat dengan langkah awal membersihkan lingkungan yang terdampak banjir bandang, agar aktivitas masyarakat tidak terganggu setelah terjadi banjir tersebut," jelasnya. Saat ini air sudah surut, tetapi pemprov tentu harus menindaklanjuti kejadian ini.

Langkah pertama itu yakni tanggap darurat, sehingga masyarakat bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari. Dalam tanggap darurat yakni dilakukan pengerukan dasar sungai maupun selokan kecil dalam lingkungan warga agar saluran air lancar sehingga tidak lagi banjir.

Di Kota Bandung, untuk mengatasi genangan air hujan yang mengkibatkan banjir diperlukan banyak kolam retensi untuk menampung air. Saat ini di Kota Bandung baru terdapat delapan kolam retensi. "Kota Bandung kekurangan kolam retensi unuk menampung air hujan," kata kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung Didi Ruswandi di Bandung, Senin (29/11).

Seperti yang terjadi di kawasan Bandung Timur, terutama Kecamatan Ujungberung, Panyileukan, Gedebage, dan Cinambo yang selama dua hari diterjang banjir karena tingginya guyuran hujan yang turun selama dua hari dan di setiap sub DAS ada genangan. Didi menyebut, berbagai cara terus dilakukan dalam mengatasi permasalahan banjir dan pihaknya sudah melakukannya. Pilihan pertama diresapkan menggunakan sumur imbuhan dalam. Kolam retensi dan sumur imbuhan dalam juga efektif untuk mengatasi permasalahan banjir, tetapi jumlahnya harus diperbanyak.

"Kolam retensi lebih efektif dengan volume yang besar. Permasalahannya lahan yang susah. Bagus kalau  imbuhan itu dikerjakan masif itu akan efektif. Cuma sekarang yang bekerja hanya beberapa instansi. Kalau tiap rumah memilki sumur imbuhan dalam itu efektif sekali," harapnya.

Baca juga: Dipicu Hujan Deras, Perpustakaan SD Ambruk di Sukabumi

Didi juga menambahkan, untuk membuat kolam retensi bukan suatu hal yang mudah karena saat ini tidak bisa didesain dahulu. Sebelum lahan tersebut dijadikan lahan atau aset Pemkot Bandung, tidak bisa dibangun kolam retensi. "Pendekatan diubah punya lahan di mana, kami buat kolam retensi. Kalau desain dulu suka gagal karena tidak semua masyarakat ingin menjual lahan," lanjutnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT