29 November 2021, 11:20 WIB

Capaian Target PAD Dinkes Sikka Turun, Alasannya Pandemi


Gabriel Langga | Nusantara

PENDAPATAN Asli Daerah (PAD) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur tahun 2021 mengalami penurunan. Hal ini disebabkan pasien yang berobat ke pelayanan puskesmas mengalami penurunan bila dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

"Di masa pandemi ini kami amati terjadi penurunan drastis dari kunjungan layanan ke fasilitas kesehatan terutama di Puskesmas. Salah satu pemicunya karena virus Covid-19. Sebab, penurunan ini terjadi karena kekhawatiran tertular virus Covid sehingga berdampak pada pemasukan dari Dinas Kesehatan ikut yang imbasnya yaitu penurunan pendapatan," ujar Kepala Dinkes Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, kepada mediaindonesia.com, Senin, (29/11).

Dia sampaikan target PAD Dinkes pada tahun ini sebesar Rp20 miliar dengan penerimaan terbesar pada Puskesmas. Namun, hingga kini baru Rp11 miliar yang terealisasi.

"Kan selama ini sumber pendapatan kita itu ada di Puskesmas. Tetapi di masa pandemi terjadi penurunan pasien sehingga kita tidak sampai target tahun ini,"dalih dia.

Terkait solusi dalam meningkatkan pendapatan pada tahun 2022, Herlemus mengaku pihak dari Komisi III DPRD Sikka telah sepakat memberikan tambahan anggaran Rp 1 Miliar yang diusulkan oleh dinasnya. Penambahan anggaran itu kata dia untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di dinas tersebut.

Dijelaskan dia, anggaran Rp1 miliar yang telah disetujui oleh DPRD Sikka  diperuntukan untuk tiga operasional dan Barang Habis Pakai (BHP) Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) sebesar Rp400 juta, fasilitas apotik Pemkab Rp300 juta, Bengkel Labkesda Rp120 juta dan Public Safety Centre (PSC) Rp180 juta.

"Dengan penambahan anggaran Rp1 miliar tersebut maka PAD Dinkes Sikka tahun 2022 ditarget akan bertambah Rp 4 miliar," ungkap Herlemus.

Ia pun menjabarkan, Rp4 miliar proyeksi pendapatan tersebut merupakan akumulasi dari empat item kegiatan tersebut dengan rincian: Labkesda diproyeksi akan menambah PAD sebesar Rp2,5 miliar, dari apotik sebesar Rp1 miliar, dan proyeksi PAD bengkel Labkesda dan PSC sebesar Rp500 juta.

"Ini hitungan untuk interval waktu 8 bulan sejak Januari 2022 bila usulan ini berjalan," jelasnya.

Dikatakan, tambahan anggaran Rp1 miliar tersebut hanyalah operasional awal yang hanya sekali digelontorkan, sebab selanjutnya empat unit kegiatan tersebut menjamin akan mandiri dan mampu meningkatkan PAD.

"Kita merujuk Labkesda Provinsi NTT, tahun pertama PADnya sebesar Rp4 miliar dan diproyeksi naik Rp7 miliar di tahun kedua. Sementara Labkesda NTT hanya punya 3 fasilitas pelayanan. Sedangkan Labkesda Sikka nantinya punya 5 fasilitas pelayanan yakni pengembangan obat tradisional, laboratorium PCR, laboratorium kimia air dan laboratorium kimia makanan dan laboratorium klinis. Segala peralatannya sudah ada," pungkas dia (OL-13)

Baca Juga: Pemprov Bali Mulai Tahun Depan Bangun Tower Terpadu di Buleleng

BERITA TERKAIT