26 November 2021, 20:45 WIB

Menanti Wahyu Keprabon Pengganti Mangkunegoro IX


Widjajadi |

 

SIAPA pengganti Mangkunegoro IX? Peringatan 100 hari wafatnya KGPAA Mangkunegoro IX sudah digelar pada 19 November lalu.

Namun hingga saat ini belum ada kejelasan siapa penggantinya, meski dari keturunan keluarga inti sudah mencuat tiga nama kepermukaan.

Hal ini memantik pemerhati atau pakar sejarah di Kota Solo ikut bersuara, sebagai sumbang saran atau memberikan pemahaman kepada masyarakat luas, tentang bagaimana suksesi pengageng adat di Pura Mangkunegaran itu bisa terlaksana tanpa pertikaian atau berlangsung damai.

Menurut Raden Surojo, pemerhati sejarah, suksesi di Pura Mangkunegaran tidak memiliki pola baku atau bersifat situasional, tidak seperti yang terjadi di Keraton Kasunanan.

"Sangat beda dengan suksesi di Keraton Kasunanan yang lebih menekankan kepada keturunan langsung. Kalau di Pura Mangkunegaran polanya situasional," ungkap Sarojo yang dikenal punya hubungan dekat dengan kerabat Mangkunegaran, dalam diskusi : Menyoal Suksesi di Pura Mangkunegaran. Wahyu Keprabon untuk Siapa ?" di Solo, Jawa Tengah, Jumat ( 26/11).

Dia mengatakan menyimak rekaman sejarah pola suksesi di Pura Mangkunegaran terjadi sesuai dengan realita yang dihadapi, yakni pola situasional, namun tidak  meninggalkan tradisi keturunan Adipati Mangkunegara.

"Jadi bisa putra, ponakan dan adik, atau cucu. Dewan Pinisipuh dan Punggowo Baku punya hak untuk memilihnya. Paling tidak memberi penilaian kapabilitas calon yang layak menjadi Raja Mangkunegaran X," jelasnya.

Hal itu bisa dilihat dari rekaman sejarah, bahwa Mangkunegoro II adalah cucu dari RM Said atau Mangkunegoro I. Demikian pula Mangkunegoro III juga merupakan cucu dari Mangkunegoro II.

Semua bukan putra langsung raja atau penguasa Istana Mangkunegaran langsung. Bahkan yang paling mencolok adalah saat suksesi Mangkunegaran 5 ke Raja Mangkunegaran 6.

"Mangkunegoro VI adalah putra Mangkunegoro IV, yang memiliki jiwa enterpreneurship (kewirausahaan) yang hebat," tambah Surojo.

Dia menilai, meski berpola situasional menurut perkembangan zaman, suksesi sangat rasional. "Seperti Mangkunegara VI dilantik menduduki jabatan pada masa Mangkunegara V dilanda krisis ekonomi. Saat itu Raja Mangkunegara IV merintis industri. Seorang kepala pemerintahan dan enterprenuer hebat," lanjutnya Surojo.

Pada bagian lain, pakar budaya Universitas Sebelas Maret Solo (UNS), Prof Andrik Purwasito, menyatakan, suksesi penerus Mangkunegoro IX ke X adalah bersatunya keinginan kontekstual dan situasional waktu kekinian, dibalut dengan wahyu keprabon.

"Saya tidak tahu siapa yang akan didudukkan. Namun suksesi bisa dari berbagai saluran, konvensional dan non konvensial," kata Andrik.

Dia mencontohkan, kala seorang penjudi Ken Arok dan buka siapa-siap, tiba-tiba ditemukan Lohgawe, sehingga bisa menjadi Raja Singasari bergelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi pada 1222-1227.

"Saat itu sosok Lohgawe melegitimasi seorang penjudi menjadi raja. Akhirnya Ken Arok jadi Raja beneran. Dia bilang kamu (Ken Arok) sekarang jadi Anak Wisnu. Kata Logawe begitu, bukan trah keturunan," jelas dia.

Hal itu pun menurut dia, bisa saja terjadi dalam suksesi di Pura Mangkunegaran. Jadi tidak harus orang dalam yang berarti rembesing madu. "Orang yang suka bertapa dan bijaksana, bisa saja. Tetapi, saya tidak mengomentari dalam Pura," ujar dia

Dia hanya berbicara filosofis, tentang adat di lingkungan monarki yang ada di Jawa masa lalu. Raja dan masyarakat itu keris dan warangka. Raja itu keris, sementara masyarakat itu warangka atau selubung yang terbuat dari kayu.

"Ada hubungan timbal balik di situ. Ya meskipun tidak punya suara yang menentukan pengganti Gusti Mangku IX, tapi ada spirit memberikan masukan. Mengingat Pura Mangkunegaran sangat luar biasa asetnya dan SDM-nya, harus dikelola dan dimaksimalkan kembali," tegas Andrik.

Sementara menyangkut sejumlah syarat wahyu keprabon untuk menjadi seorang raja,  ia memberikan kriteria harus wicaksono atau unggul dalam pengetahuan lahir dan batin, berpandangan jernih.

"Lebih dari itu punya watak waskito (mampu merasakan hal yang gaib, bisa memberantas kejahatan. Atau seperti Dewa Surya dan Dewa Bayu dalam pewayangan. Arti wahyu keprabon itu di antaranya juga suka bersedekah, tegas dan berani melawan kejahatan," tukas Andrik.

Jika sosok atau figur memenuhi apa yang menjadi kriteria itu, bisa saja yang akan ketiban wahyu keprabon. Ada spirit wicaksono artinya cenderung orang yang bijaksana.

"Jadi tidak bisa diberikan ke orang sembarangan, karena wahyu keprabon itu memilih. Istilahnya jika ada orang yang haus, ia memberi air. Maka kalau ada yang seperti itu ya jadi Gusti Mangku ke X," pungkas budayawan Kota Solo itu.

Saat ini, tiga nama beredar untuk jadi penerus Mangkunegara IX. MEreka adalah trah dalem keluarga inti. Ketiganya ialah GPH Paundrakarno Jiwo Suryanegara, GPH Bhre Cakrahutomo dan KRMH Roy Rahajasa Yamin yang merupakan putra dari kakak mendiang Mangkunegoro IX. (N-2)

BERITA TERKAIT