24 November 2021, 13:04 WIB

KPPU Selisik Lonjakan Harga Minyak Goreng di Sumut


Yoseph Pencawan | Nusantara

KOMISI Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan memulai upayanya menyelisik penyebab lonjakan harga minyak goreng di Sumatra Utara, khususnya Kota Medan, yang terjadi belakangan ini.

KPPU Wilayah I mengetahui bahwa harga CPO dunia mengalami kenaikan dan harga CPO merupakan salah satu variabel yang dapat memengaruhi harga minyak goreng. Namun mereka masih ingin memastikan apakah memang lonjakan harga minyak goreng yang terjadi di Sumut lebih dipengaruhi kenaikan harga CPO atau bukan.

Mereka pun ingin melihat apakah itu juga terkait dengan kebijakan biodiesel atau tidak. Sebab kebijakan itu merangsang peningkatan kebutuhan CPO. Selain itu akan dilihat juga dari sisi produsen.

Menurut Kepala Kantor Wilayah I Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Ridho Pamungkas, lonjakan harga minyak goreng curah lebih tinggi dari minyak goreng kemasan. Karena itu mereka pun akan melihat apakah produsen menaikkan harga minyak goreng kemasan karena mengikuti harga minyak goreng curah atau tidak.

"Dengan kata lain, (produsen minyak goreng kemasan) bisa saja memanfaatkan situasi ini," imbuhnya, Rabu (24/11).

Begitu juga bila nanti harga CPO turun, apakah produsen juga akan menurunkan harga minyak goreng kemasan atau tidak. Sebab boleh jadi meskipun harga CPO sudah turun tetapi produsen masih memberikan harga yang sama.

Untuk itu, pihaknya sudah mengundang salah satu produsen minyak goreng untuk meminta keterangan lebih detil mengenai hal-hal di atas. Rencananya, pertemuan itu akan digelar pada Selasa 7 Desember 2021.

KPPU tidak ingin penyebab lonjakan harga minyak goreng seperti yang dialami pupuk bersubsidi belum lama ini yang sempat langka di pasaran. Kondisi itu terjadi ketika harga pupuk nonsubsidi sedang tinggi, atau naik hingga tiga kali lipat. 

Kenaikan harga pupuk nonsubsidi tersebut dipengaruhi harga internasional. Harga pupuk dunia melonjak karena ketika pandemi melandai, eksportir menahan barang untuk kebutuhan dalam negerinya.

Akibatnya di Indonesia, termasuk Sumut, terjadi disparitas harga yang cukup lebar antara pupuk bersubsidi dengan nonsubsidi. Kondisi ini mendorong oknum-oknum tertentu memanfaatkan situasi menjual pupuk bersubsidi dengan harga nonsubsidi.

Selain itu perubahan sistem distribusi pupuk bersubsidi juga memberi pengaruh. Perubahan distribusi yang kini langsung diberikan ke petani telah menyebabkan banyak tertumpuknya pupuk yang menunggu giliran pengiriman.

Seperti diketahui, harga minyak goreng di Sumut, khususnya Kota Medan, mengalami lonjakan belakangan ini. minyak goreng kemasan di tingkat pengecer mengalami lonjakan harga hingga Rp20 ribu dari harga sebelumnya yang hanya Rp12-14 ribu per liter. (YP/OL-10)

BERITA TERKAIT