11 November 2021, 11:32 WIB

Siswa SD Wolorae Berkreasi Lewat Sanggar Seni Dhengi Dhawe


Ignas Kunda |

SEJUMLAH siswa SD Wolorae, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), antusias menampilkan tarian adat dengan musik dari irama gong dan gendang pada peresmian Sanggar Seni Dhengi Dhawe di hadapan sejumlah pegawai negeri dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta guru-guru, Kamis (11/11). 

Peresmian itu merupakan bentuk penghargaan terhadap kerja para siswa yang telah mempertahankan sanggar seni ini sejak 2015 walaupun baru diresmikan sekarang oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Nagekeo. 

Menurut Ketua Sanggar Dhengi Dhawe, Maria Florentina, aktivitas kesenian anak-anak SD ini sebenarnya sebagai bentuk kepedulian dan kegelisahan akan mulai pudarnya kecintaan dan pengetahuan budaya yang seharusnya mengakar di kehidupan anak-anak ini sebagai penerus bangsa. 

Baca juga: Ganjar Pranowo Dialog dengan Veteran dan Mahasiswa Rantau Papua

"Pengalaman saya sebagai contoh kecilnya bahwa bahasa daerah atau syair adat yang mengandung pesan moral yang cukup dalam sudah tidak dapat dituturkan lagi oleh anak-anak ini. Ini kegelisahan saya dan para guru di sini sehingga kami mulai membangun sanggar ini dan mempertahankannya agar anak-anak kenal akan budayanya yang adalah jati dirinya, sama halnya Bali yang lekat dengan nuansa budayanya, " katanya. 

Florentina menjelaskan sanggar Dhengi Dhawe, yang berarti suara yang indah, sebenarnya mempunyai arti bahwa nilai seni warisan leluhur sangat indah serta penuh pesan moral yang baik karena itu harus disuarakan dan ditanam sejak anak-anak sehingga tetap terbawa kelak sampai mereka dewasa. Sedikitnya ada 21 orang anak yang tergabung dalam sanggar seni ini. 

Selain itu, Florentina juga mengungkapkan selama ini kegiatan anak-anak ini masih sebatas pengembangan atau pengenalan pengetahuan soal budaya sendiri mulai dari tarian daerah, seperti ja'i, dero, tea eku, alat musik tradisional sampai kepada arti dibaliknya. 

"Ke depan, kami akan mengembangkan  minat seni anak-anak ini, dengan cerita  seperti dongeng, atau syair adat sehingga anak-anak bisa berpuisi atau bercerita kemudian mungkin kami akan kembangkan budaya menulis cerita daerah agar tidak punah dan terus ingat. Kami melihat ternyata anak-anak ini antusias dan melepaskan smartphone mereka ketika berlatih tarian atau kegiatan seni ini. Apapun sulitnya namun kami pantang mundur itu artinya, " ungkapnya. 

Kepala Sekolah SD Wolorae, sebagai pembina Sanggar Dhengi Dhawe, Maria Imaculata Tajo, mengatakan di era digital sekarang banyak kemudahan akibat dunia smartphone yang sudah melekat dengan tidak bisa lepas dari kehidupan anak-anak sehingga mereka lebih mengenal budaya luar dibandingkan budaya sendiri. 

Keberadaan sanggar ini sebagai wadah untuk kembali mencintai dan mengingatkan kembali arti warisan leluhur dan benilai seni sangat tinggi. 

"Karena dengan era digital anak cenderung lebih suka budaya barat atau luar yang lebih mudah di dapat lewat internet. Makanya budaya sudah mulai lupa.  Ketika bahasa daerah digunakan anak anak sudah lupa dan lagu daerah sudah lupa mereka tidak bisa nyanyi lagi. Maka kami berusaha lewat sanggar ini agar anak sudah mulai kenal sejak diri jati dirinya, " ungkapnya. 

Imaculata berharap dengan peresmian itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Nagekeo terus memberikan dukungan agar kreativitas dan semangat anak-anak mereka tetap terjaga dan tidak putus di tengah jalan. 

"Ajaran leluhur kita penuh nasihat tidak hanya nyanyian atau syair namun harus dilakukan dalam tindakan nyata. Karena itu sanggar ini kami bentuk agar anak tidak hanya tahu gerak dan ucap, namun bisa dipraktikan sebagai modal kepribadian yang baik, " pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT