09 November 2021, 14:00 WIB

Mulakoli akan Jadi Kampung Bunga Mawar di Flores


Ignas Kunda |

BERADA di bawah kaki Gunung Ebulobo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kampung Mulakoli yang memiliki iklim sejuk serta tanah subur, rencananya akan dijadikan Kampung Bunga Mawar. Rencana itu diungkapkan John Boleng, politisi Partai Nasdem, yang kineni anggota Komisi III DPRD Kabupaten Nagekeo, NTT.

Ia menyampaikan itu ketika melakukan survei bersama Kepala Bank NTT Cabang Mbay, Matias Nara Tifaona, serta Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo, Edi Due Woi, Selasa (9/11). Survei kolaborasi di Kampung Mulakoli juga mengikuti ritual adat tanam padi sebagai awal permulaan musim tanam bagi warga setempat. Ia juga menyaksikan ritual Melo Sa'o sebagai salah satu atraksi budaya di Kampung Mulakoli. 

Menurut John Boleng, bukan soal jabatan dirinya hadir di kampung bersama warga, tetapi yang bisa dilakukan untuk membangun kampung demi kesejahteraan masyarakat. Karena itu ia sedang berupaya agar Kampung Mulakoli bisa bangkit dengan potensi yang ada dengan hal-hal yang tampak sederhana. 

Bagi John, Kampung Mulakoli merupakan kampung sejarah yang punya catatan lisan dalam narasi sejarah Nagekeo. Selain itu, hal tersebut memanfaatkan keunggulan wisata pendakian ke Gunung Ebulobo sehingga para wisatawan bukan hanya singgah sebentar tetapi bisa menginap lebih lama menikmati bunga-bunga di tengah kampung. Dengan demikian warga mendapat nilai lebih dengan kehadiran banyak wisatawan. 

"Bila di Belanda terkenal dengan negeri Bunga Tulip, Mulakoli kami mau buat Kampung Mawar. Bila tidak punya dana, kami usaha cari bersama agar mimpi ini bisa tercapai," ujarnya.

Matias Nara Tifaona mengatakan pihaknya mencoba membantu warga desa, khususnya Kampung Mulakoli, untuk mengangkat potensi lokal seperti pendakian ke Gunung Ebulobo dan Kampung Bunga Mawar yang akan direncanakan ini. Bank NTT, lanjutnya, mencoba memasukkan Mulakoli sebagai desa binaan. Hingga kini sudah ada lima desa binaan Bank NTT di Nagekeo. 

"Ini kami buat sebagai paket wisata. Beberapa waktu lalu ada tracking ke Gunung Ebulobo. Itu yang kami akan manfaatkan agar masyarakat lokal mendapatkan keuntungan. Selama ini hanya orang masuk dan lewat saja. Kita bisa menyiapkan karcis dan ini bisa dibuat paket yang bukan hanya tracking tetapi juga ada wisata budaya seperti tarian, ritual adat, suvenir, pangan lokal, dan kerajinan. Dengan demikian, uang masuk di rekening pokdarwis (kelompok sadar wisata)," ungkapnya. 

Matias menambahkan pihaknya bisa membantu pokdarwis desa agar membuka rekening di Bank NTT. Selain itu ia akan membantu menyiapkan barcode paket wisata kampung yang berisi semua narasi soal Kampung Mulakoli sehingga ada cerita soal kampung. "Orang di Belanda pasang barcode bisa mengetahui cerita Kampung Mulakoli. Kami menawarkan produk Bank NTT seperti kita buatkan rekening tabungan juga kredit seperti kredit merdeka, tidak ada bunga dan jaminan selama satu tahun. Hanya bawa KTP, kartu keluarga, kartu usaha dari desa," ulasnya. 

Pihaknya juga dapat menyiapkan tempat berfoto bila Kampung Bunga Mawar jadi. Nanti pun akan ada Festival Desa Binaan pada 2022 dengan hadiah total senilai Rp200 juta. 

Edi Due Woi mengimbuhkan bahwa survei ini sebenarnya sebagai tindak lanjut dari yang telah dilakukan pihaknya pada tahun-tahun sebelumnya. Ini karena melihat potensi Kampung Mulakoli harus diberdayakan dengan memanfaatkan wisata Gunung Ebulobo sebagai pemicunya. 

Baca juga: Tingginya Permintaan Komoditi, Nilai Ekspor Babel Naik 99,15%

"Kampung ini seperti putri tidur dan kami melihat harus dibangunkan dengan hal sederhana seperti Kampung Bunga Mawar yang bisa dinikmati hampir semua halaman rumah warga di kampung ini. Dengan demikian para pendaki tidak hanya ke gunung tetapi bisa menikmati kampung ini dan berlama-lama di sini," ujarnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT