07 November 2021, 18:55 WIB

Teten Berharap Batik Indonesia Dapat Bangkit dan Merajai Pasar Global


Ardi Teristi | Nusantara


RANGKAIAN Jogja International Batik Biennale (JIBB) ditutup di Pendapa
Agung Kedhaton Ambarrukmo, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (06/11) malam.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Teten Masduki menilai JIBB merupakan narasi kuat tentang produk tradisi Indonesia yang mahamakna dengan filosofi yang mengakar.

"Untuk itu, saya berharap melalui Jogja Membatik Dunia, UMKM terkait
wastra tradisional, termasuk batik Indonesia dapat bangkit dan meraja di pasar global," papar dia secara daring. Batik, lanjut dia, merupakan
bukti mahakarya yang tetap lestari.

Berdasarkan data, ekspor batik Indonesia pada 2020 mencapai US$532,7
juta atau Rp7,5 triliun. Industri batik telah memberdayakan 200 ribu
tenaga kerja dari 47 ribu unit usaha yang tersebar di 101 sentra wilayah Indonesia.

Teten menekankan pentingnya inovasi karena para kompetitor internasional terus menjadi tantangan. "Harapan kami, UMKM pengrajin batik dapat membentuk kelembagaan koperasi. Koperasi jadi offtaker. Kami dan LPDB-KUMKM siap dukung pembiayaan," ungkap Teten.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan, melalui JIBB,
batik diharapkan dapat lebih dikenal di kancah dunia dan dapat
menjadikan Yogyakarta sebagai kota batik dunia. Saat ini, batik sudah
semakin populer dan menjadi kebutuhan dunia.

Ia pun mengapresiasi para perajin batik. Pasalnya, merekalah yang telah
membangun masa depan batik Indonesia.

Batik, lanjut dia, tidak hanya  dilihat dari sisi kebudayaan, tetapi juga kepentingan ekonomi masyarakat.


Dalam kesempatan itu, gerakan Jogja Membatik Dunia juga resmi dibuka
dengan ditandai penggoresan malam pada kain bermotif batik Ceplok
Mangkoro oleh Sri Sultan bersama Ketua Dekranasda DIY GKR Hemas,
Sekretaris Daerah DIY Kadarmanta Baskara Aji, dan Wakil Ketua 1 PKK DIY
GKBRAy Paku Alam.

Mangkoro berarti ora ana sekara-kara, yang bermakna tidak ada halangan dan rintangan.

Motif mangkoro berasal dari bagian belakang penutup kepala atau sumping
pewayangan jawa. Menorehkan Ceplok Mangkoro dalam batik adalah wujud doa untuk menolak musibah.

Kegiatan ini merupakan doa agar dunia segera pulih dari pandemi, sekaligus sebagai pertanyaan untuk posisi Jogja sebagai ibu kota batik dunia.

Ketua Dekranasda DIY GKR Hemas mengungkapkan, Yogyakarta sebagai
penyandang gelar International World Batik Heritage harus dapat
mengelola gelar tersebut dengan baik, nguri-nguri, mengembangkan batik, dan mendorong masyarakat memanfaatkan gelar tersebut sebaik-baiknya. JIBB 2021 telah berlangsung sejak Agustus. (N-2)

BERITA TERKAIT