07 November 2021, 18:12 WIB

Persoalan Hulu Jadi Pemicu Banjir Bandang Kota Batu


Bagus Suryo | Nusantara

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sungai purba  atau sungai mati di hulu Kota Batu, Jawa Timur, tidak teraliri air memicu longsor dan banjir bandang.

Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari seusai survei udara dalam konferensi pers, Sabtu (6/11). "Sungai-sungai mati saat hujan menjadi titik longsor karena sungai di hulu tidak terlalu lebar," tegasnya.

Akibatnya, material longsor menutup badan air menjadi bendung-bendung alam sehingga menutup aliran air dan membendung aliran air di bagian hulu. Saat hujan intensitas tinggi, lanjutnya, bendung-bendung alam itu tidak  mampu menahan air dan hancur.

Lalu, terjadilah banjir membawa volume air besar, material pasir dan pohon tumbang. Karena itu, masyarakat di bantaran sungai diminta segera mengevakuasi diri saat terjadi hujan berintensitas tinggi.

Mengingat La Nina sampai Januari-Februari 2021, katanya, rencana aksi susur sungai harus segera dilakukan oleh TNI, Polri dan Basarnas. Tujuannya guna mendeteksi dini titik-titik sumbatan atau bendung alam di hulu.

Pembersihan sisa-sisa pohon tumbang harus cepat dilakukan karena berpotensi membendung aliran. Selanjutnya, menanam pohon keras berakar kuat di lereng tebing dan kawasan kebun semusim.

Ia mengingatkan jangan memanfaatkan lereng jalur lembah sungai untuk kebun semusim selain penting menegakkan aturan sepadan sungai. Masyarakat diminta siap siaga evakuasi saat hujan deras termasuk memperkuat jejaring peringatan dini berbasis masyarakat.

Sementara itu Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menyatakan seluruh korban hilang sudah ditemukan. Pembersihan lokasi terdampak sudah tuntas, jalan raya pun bisa dilalui lagi. Penanganan bencana terkini, pengungsi di Balai Desa Bulukerto dan Gedung  Kesenian Dusun Ginting Kota Batu sudah kembali ke rumah masing-masing.

Petugas gabungan melanjutkan pembersihan material banjir bandang termasuk memperbaiki kerusakan akibat bencana yang membuat tujuh orang meninggal dunia tersebut. Petugas membangun kembali rumah rusak berat milik korban bencana.

Banjir bandang pada Kamis (4/11) di delapan desa merusak 35 rumah, 33 rumah terendam lumpur, menghanyutkan 7 mobil dan 107 ekor hewan ternak, 73 motor, serta menghancurkan 10 kandang. Banjir juga merusak tanaman pertanian. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT