01 November 2021, 09:05 WIB

Imbas Pandemi Peredaran Upal di Eks Karesidenan Pekalongan Turun Drastis


Supardji Rasban | Nusantara

KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Tegal yang wilayah kerjanya meliputi kabupaten dan kota se-eks Karesidenan Pekalongan, Jawa Tengah, mencatat peredaran uang palsu (upal) selama tahun 2021 mengalami penurunan cukup drastis. Penurunan upal secara drastis tersebut ditengarai karena adanya pandemi Covid-19, dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dimana transaksi uang nontunai yang meningkat.

Hal itu disampaikan Kepala KPw BI Tegal, M. Taufik Amrozi, saat Media Ghatering KPw-BI Tegal, yang diikuti puluhan jurnalis se-eks Karesidenan Pekalongan, pada Sabtu-Minggu (30-31/2021) di Guci, Kabupaten Tegal.

Jika di tahun 2020 lalu temuan upal mencapai 7.024 lembar, pada Januari hingga 29 Oktober 2021 baru mencapai 883 lembar. "Namun demikian, KPw BI Tegal terus melakukan sejumlah langkah untuk menekan peredaran uang palsu, antara melakukan sosialisasi terkait upal secara masif," ujar Taufik.

Taufik menyebut, temuan upal pada tahun 2020 lalu mencapai 7.024 lembar dari jumlah tersebut sebanyak 4.973 lembar ditemukan di Kabupaten Brebes dalam bentuk pecahan Rp100 ribu.

"Sedangkan temuan upal di wilayah eks-Karesidenan Pekalongan terhitung Januari hingga 29 Oktober 2021 mencapai 883 lembar," terang Taufik.

Menurut Administrator Perkasan Unit Pengedaran Uang Rupiah KPw BI Tegal, Mudafiul Haq, masyarakat lebih memilih melakukan transaksi secara nontunai mobile banking, dan uang elektronik.

"Kami akan terus melakukan sosialisasi sekaligus edukasi, untuk mencegah terjadinya peredaran uang palsu," ujar Mudafiul.

Kegiatan media ghatering selain edukasi tentang cinta bangga paham rupiah, penyampaian data uang palsu dan uang beredar di Karesidenan pekalongan, juga membahas materi terkait kebanksentralan serta perkembangan ekonomi di eks Karesidenan Pekalongan. (OL-13)

Baca Juga: Polisi Tangkap Empat Pengedar Uang Palsu di Kota Depok

 

 

BERITA TERKAIT