31 October 2021, 18:05 WIB

Konflik Panjang Orang Rimba di Perkebunan Kelapa Sawit


Solmi | Nusantara

KEBERADAAN Orang Rimba yang terpaksa hidup menumpang di tengah perkebunan kelapa sawit di Jambi terus saja menuai konflik. Pasalnya, pihak pemilik kebun tidak pernah merelakan ulah Orang Rimba yang kerap memunguti brondolan buah sawit hanya untuk mengisi kebutuhan sehari-hari.

Contoh kasus terbaru konflik tersebut dialami anggota kelompok Orang Rimba yang menumpang mendirikan sudung (pondok sederhana) di areal perkebunan kelapa sawit garapan PT Primatama Kreasi Mas (PKM) di sekitar Desa Lubuk Jering, Kecamatan Air Itam, Kabupaten Sarolangun, Jumat (29/10). Konflik yang berujung aksi anarkis itu bermula ketika petugas pengamanan kebun memergoki beberapa indok-indok (perempuan) Orang Rimba tengah mengumpulkan buah kelapa sawit yang jatuh sendiri dari pohon (brondolan) di area PT PKM yang sebelumnya bernama Jambi Agro Wiyana (JAW).

Berdasarkan informasi yang dirilis Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, petugas keamanan PT PKM merampas buah sawit yang dikumpulkan dalam karung kecil dari tangan beberapa wanita Orang Rimba. Sontak aksi petugas security PT PKM itu disambut teriakan histeris wanita Orang Rimba.

Teriakan tersebut mendapat perhatian dari seorang laki-laki Orang Rimba bernama Besayung. Besayung langsung pasang badan dan melindungi indok-indoknya dari perlakuan petugas perusahaan. Nahas, Besayung dihadiahi beberapa pukulan.

Melihat aksi kekerasan yang menimpa Besayung, para peremuan Orang Rimba di lokasi kejadian semakin heboh dan memekik histeris. Kehebohan itu kemudian mengundang kedatangan beberapa laki-laki Orang Rimba lain ke lokasi kejadian. Beberapa dari mereka membawa senjata api rakitan sejenis kecepek.

Dalam situasi gaduh itu, Orang Rimba yang datang membantu menjadi emosi dan menembakkan senjatanya. Akibatnya, tiga petugas keamanan PT PKM terluka pada bagian kaki, tangan, dan pantat. Para satpam ini segera dibawa ke rumah sakit oleh pihak perusahaan.

Menurut Humas KKI Warsi, Sukmareni, pascakerusuhan dalam kebun ini, terjadi penyerangan sekelompok laki-laki ke permukiman Orang Rimba. Sudung (gubuk) Orang Rimba yang berdiri di perkebunan sawit milik orang lain habis diobrak-abrik. Sepeda motor yang ada di lokasi dibakar. 

Pun dengan Orang Rimba yang berada di permukiman madani Desa Lubuk Jering Kecamatan Air Hitam juga diserbu. Sepeda motor milik Orang Rimba di lokasi ini juga dibakar. Menurut Sukmareni, sedikitnya ada lima sepeda motor yang terbakar dari dua lokasi Orang Rimba yang di-sweeping.

Saat ini kondisi Orang Rimba lari mengungsi ketakutan pascabentrok yang terjadi. Bentrokan yang terjadi pada Jumat itu, menurut KKI Warsi, merupakan rentetan atas konflik yang terjadi pada 17 September 2021.

Pada saat itu, Orang Rimba yang membrondol sawit (mengambil buah sawit yang jatuh dari pohon). Dalam perjalanan pulang dari mengambil brondol, Nutup dan Niti, adiknya, bersama tujuh Orang Rimba lain dihadang satpam dan pekerja perusahaan PKM. Satpam meminta mereka menurunkan hasil brondolannya.

Melihat kalah jumlah Orang Rimba berniat menurunkan hasil membrondol sehari. Namun kemudian Orang Rimba ini dipukuli dan menyebabkan tiga Orang Rimba terluka. Enam motor yang dikendarai Orang Rimba dirampas dan dibuang ke parit perusahaan yang lokasinya berada di kawasan gambut Sarolangun itu.

Tidak berhenti sampai di situ, Besera dan enam anggota rombongan lain melintas di lokasi yang sama mendapat perlakuan sama. Mereka dipukuli dan motor dirampas. Total 17 motor Orang Rimba yang dirampas dan dibuang ke parit.

Dalam situasi yang ketakutan Orang Rimba berlari meninggalkan lokasi bentrok. Melalui Tumenggung Ngelembo yang memiliki hubungan waris (hubungan kekerabatan) dengan kelompok yang dipukuli berupaya mencari penyelesaian dengan pihak perusahaan. Tercapai kata sepakat damai pada 13 Oktober 2021. Isinya perusahaan akan mengganti luka pampai, denda adat yang telah menyebabkan Orang Rimba luka-luka senilai Rp36 juta. Sedangkan 17 motor yang dibenamkan di parit dikembalikan ke Orang Rimba dalam kondisi yang sudah diperbaiki. Perusahaan berjanji seminggu akan menyelesaikan perbaikan motor dan membayar denda adat.

Hanya, hingga Jumat (29/10, sudah lewat dari waktu yang dijanjikan, penyelesaian tak kunjung datang. Akibatnya Orang Rimba kembali membrondol sawit dan meletuslah konflik dan semakin luas. Melihat konflik yang terus terjadi, Robert Aritonang, Manajer Program Suku-Suku Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, menyebutkan, setiap konflik ini harus dilihat akar persoalannya. Jangan dilihat secara parsial. Rentetan kasus yang timbul merupakan akumulasi dari persoalan-persoalan dasar pada komunitas adat marginal dalam hal ini Orang Rimba yang tidak terselesaikan dengan baik.

Perusahaan sawit yang berkonflik dengan Orang Rimba merupakan wilayah jelajah suku Orang Rimba semenjak sebelum ada perusahaan di wilayah itu. Namun kemudian perusahaan hadir dan membiarkan komunitas itu
terlunta-lunta di dalam lahan mereka, tanpa ada upaya untuk mengakomodasi suku ini dan memperlakukan mereka layaknya bagian dari anak bangsa. "Ini yang jadi intinya, Orang Rimba kehilangan sumber penghidupan mereka, akibat beralih fungsi menjadi perkebunan sawit," kata Robert.

Sementara itu, sampai berita ini dikirim belum diperoleh konfirmasi dari pihak PT PKM. Kapolres Sarolangun Ajun Komisaris Besar Sugeng Wahyudiono kepada wartawan di Jambi membenarkan ada konflik berujung penembakan oleh warga Orang Rimba (Suku Anak Dalam) terhadap tiga satpam PT PKM. Menurut Sugeng, pelakunya tiga warga Orang Rimba. 

Kasusnya dipicu oleh pelarangan pengambilan buhah sawit oleh Orang Rimba di lahan perusahaan. Sugeng menduga aksi pengambilan brondolan sawit berlatar belakang masalah sulit kehidupan Orang Rimba. Senjata rakitan diduga digunakan Orang Rimba untuk berburu babi. Ketiga pelaku penambakan saat ini sedang diupayakan komunikasi dengan pemuka Orang Rimba setempat untuk datang ke kantor polisi terdekat.

Baca juga: Forum Kemitraan Siap Mediasi Konflik Suku Anak Dalam dengan Warga

Sugeng menyebutkan, proses hukum atas konflik berujung penembakan itu akan tetap diusut secara hukum. Namun penangangan disesuaikan dengan kondisi dan pendekatan persuasif kepada unsur pimpinan Orang Rimba di daerah bertikai. (OL-14)

BERITA TERKAIT