29 October 2021, 20:45 WIB

PKK Kota Surakarta dan HPB Masyarakatkan Batik untuk Milenial


Widjajadi | Nusantara

 

PKK Kota Solo dan Himpunan Ratna Busana ( HPB) semakin sehati untuk melestarikan batik. Ada banyak pakem dan corak di dalam karya berseni tinggi itu yang membuat batik makin bernilai untuk digandrungi berbagai kalangan.

Pembina PKK Kota Surakarta, Selvi Ananda, menyatakan hal itu, ketika hadir dalam talkshow yang digelar perkumpulan pecinta busana daerah yang tergabung dalam HPB.

"Batik merupakan warisan leluhur yang patut dilestarikan dan terus dibudayakan pada segenap anak bangsa. Di dalam karya batik, sarat dengan pakem dan kaya filosofi. Ternyata ada corak batik tertentu yang tidak boleh dipakai di sembarang kegiatan. Hal seperti ini tentu patut diperkenalkan dan diteruskan kepada kaum muda," kata peraih gelar Putri Solo itu.

Istri Wali Kota Gibran Rakabuming Raka itu mengaku masih banyak belajar tentang karya batik. Bersama Sherly Prakosa, istri Wakil Wali Kota Teguh Prakosa, Jumat (29/10), mereka menyimak talkshow bertajuk : Mengenal Batik Menurut Zaman dan Lingkungan, yang digelar di Rumah Batik Danar Hadi.

"PKK kota Solo akan membantu memberdayakan batik kepada anak anak muda, agar semakin mencintai batik, karya adiluhung bangsa sendiri. Banyak proses yang dilalui pada karya batik, terutama menyangkut pakem, corak dan nilai filosofi yang terkandung di dalamnya," imbuh Selvi.

Sementara itu, HPB yang merupakan perkumpulan ibu-ibu pecinta busana daerah, bukan kali ini saja berupaya memperkenalkan ragam busana karya anak bangsa. Talkshow dan peragaan busana berikut pameran yang digelar di Rumah Batik Danar Hadi, dalam rangkaian Hari Batik Nasional itu, juga sudah berlangsung sejak awal hingga akhir Oktober.

Asti Suryo Astuti,  kurator Museum Batik Danar Hadi menjelaskan batik sebagai salah satu kekayaan budaya yang dulunya hanya dapat dikenakan oleh putra putri dalem di dalam Kraton Surakarta. Oleh Raja Paku Buwono VII, batik diizinkan untuk dipakai di luar keraton, hingga akhirnya menjadi populer di dalam dan luar negeri, sampai sekarang ini.

"Ada beberapa faktor dan pengaruh kepemimpinan di Nusantara yang harus dilalui oleh batik hingga dapat dikenal oleh masyarakat, yang makin populer sampai saat ini," tandasnya.


Asti bertutur tentang perkembangan batik era sebelum merdeka hingga saat ini. Ia pun perlu menunjuk 30 motif jarik yang merupakan koleksi maestro batik almarhum Santosa Doellah, yang ikut dipamerkan dalam kegiatan Hari Batik Nasional Tahun 2021. (N-2)

BERITA TERKAIT