25 October 2021, 22:15 WIB

Pertanian Kabupaten Cirebon Butuh Intervensi Pemerintah Pusat


Nurul Hidayah | Nusantara

 

PENINGKATAN produksi padi di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengalami sejumlah kendala. Untuk itu, pemerintah kabupaten sudah mengajukan permohonan bantuan kepada Kementerian Pertanian.

Wakil Bupati Cirebon, Wahyu Tjiptaningsih saat menghadiri peringatan
Hari Pangan Sedunia ke 41 di Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik,
Kabupaten Cirebon, Senin (25/10), menjelaskan Kabupaten Cirebon menjadi
salah satu daerah yang berkontribusi terhadap swasembada beras nasional.

"Produksi rata-rata di Kabupaten Cirebon mencapai 545.269 ton gabah
kering giling," paparnya Ayu, panggilan sang wabup.

Dari  jumlah tersebut, produksi beras di Kabupaten Cirebon sudah surplus 90 ribu ton per tahun.

Selanjutnya pada 2024 mendatang Kabupaten Cirebon menargetkan produksi
GKG sebanyak 572 ribu ton dengan luas tanam 93 ribu hektare. untuk
mencapai target tersebut dapat dilakukan dengan peningkatan indeks
penanaman, terutama di wilayah utara yang mendapat aliran air dari Waduk Jatigede.

"Namun tetap ada sejumlah kendala," lanjutnya.

Di antaranya, belum normalnya sungai pembuang, sehingga menyebabkan banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau.

Kendala lainnya yaitu keterbatasan tenaga kerja saat panen raya sehingga terjadi keterlambatan panen dan pasca panen.

"Akibatnya terjadi penurunan kualitas gabah," tutur Ayu.

Untuk itu dibutuhkan mesin panen modern dan alat pengering modern, sehingga dapat mengamankan hasil panen dan menjaga kualitas gabah.

"Kami mohon kepada Pak Menteri Pertanian untuk membantu mengatasi kendala tadi," pinta Ayu.

Selain beras, komoditas andalan pertanian di Kabupaten Cirebon adalah
bawang merah dan dan mangga. Untuk bawang merah menghasilkan 36.703 ton  dan tahun ini sebanyak 67 ton diekspor ke Singapura.

Sementara produksi mangga sebanyak 42.109 ton per tahun. Namun pada 2021 ini ekspor mangga terhenti karena pandemi covid-19. Sebelumnya mangga dari Kabupaten Cirebon diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Kuwait, Arab Saudi, Oman, Qatar dan Hongkong.


<>Menteri Pertanian<>


Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, memberikan bantuan program pertanian di Kabupaten Cirebon dengan nilai Rp19,5 miliar. Dia juga mengajak Wakil Bupati Cirebon untuk mengekspor
beras yang dihasilkan dari Kabupaten Cirebon.

"Ini nilainya bagus," tutur Limpo.

Asalkan proses penggilingan beras diperbaiki, sehingga menghasilkan beras yang tahan hingga 2 tahun, ekspor beras dari Kabupaten Cirebon bisa dilakukan.

Mentan juga mengingatkan tantangan di bidang pertanian ke depannya akan
semakin berat. Terutama seiring ancaman pemanasan global.

"Dampak dari anomali cuaca dan pemanasan global sudah mulai dirasakan. Salah satunya berupa banjir di berbagai tempat," tutur mantan Gubernur Sulawesi Selatan dua periode itu.

Untuk itu, dia meminta kepada kepala daerah, baik kabupaten dan kota maupun provinsi untuk memikirkan tentang embung dan irigasi. Mereka juga diminta untuk terus mendukung sektor pertanian sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. (N-2)

BERITA TERKAIT