22 October 2021, 14:50 WIB

Asa Sejahtera Kampung Garam di Pesisir Laut Selatan


Lilik Darmawan | Nusantara


KETIKA Indonesia belum merdeka, sekitar 1930-an hingga 1950-an,
masyarakat pesisir Kebumen, Jawa Tengah, sudah menjadi petani garam secara tradisional. Namun, entah kenapa, pekerjaan pembuatan garam kemudian ditinggalkan.

Kisah nenek moyang itulah yang kemudian menguatkan masyarakat pesisir Kebumen untuk memulai menjadi petani garam lagi. Pada awalnya, dimulai pada 2018 di Desa Miritpetikusan, Kecamatan Mirit.

Orang pertama yang mulai mengembangkan garam di Kebumen adalah Puji
Santoso. Ia kemudian menjadi Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar)
dengan nama Jagad Kidul.

"Pada awalnya dulu, kami diberi pelatihan oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Tegal, lembaga di bawah koordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dari situlah, saya langsung mencoba mempraktikkan pembuatan garam di Desa Miritpetikusan," jelas Puji
pada Jumat (22/10).

Pada awal mempraktikkan pembuatan garam, ada 11 anggota kelompok yang terlibat dengan sistem tunnel. Mereka mendapat cibiran.

"Kami ditertawakan karena pada saat memulai pembuatan garam dengan sistem tunnel. Banyak yang bilang, membuat garam kok caranya seperti itu. Ya, saya membiarkan saja, yang penting saya yakin dengan ilmu yang sudah saya dapat," jelas Puji.

Dari 11 anggota, setiap orang mengeluarkan uang untuk pembangunan
tunnel sebesar  Rp1,5 juta. Total terkumpul Rp16,5 juta.

Uang tersebut dipakai untuk membuat 12 tunnel. Satu paket untuk memproduksi garam harus ada minimal 6 tunnel.

"Pada saat itu, baru 2 bulan sudah bisa panen. Hasil garamnya sangat bagus, karena laut masih alami, tidak ada pencemaran," ungkap Puji.

Kemudian, mereka bersepakat untuk menambah Rp1 juta lagi guna
membuat satu paket tunnel sebanyak 7 tunnel.

"Waktu itu ada yang terkena abrasi. Ternyata juga, lahan yang kami pakai adalah areal tempat latihan menembak TNI Angkatan Darat. Ya sudah mau tidak mau, kami harus pindah lokasi ke lahan milik Desa Mirit Petikusan sampai sekarang," lanjutnya.

Ketika harus pindah, anggota kelompok sempat bingung, karena tidak mungkin tunnel yang dipindahkan jumlahnya akan sama dengan sebelumnya. Dari 19 tunnel yang ada, mereka hanya mampu memindahkan satu paket atau 6 tunnel.

"Waktu itu juga ada peluncuran Kampung Garam. Meski kami hanya
dapat menyelamatkan 6 tunnel, tetapi tidak berapa lama ada bantuan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebanyak 15 tunnel dengan ukuran 4x15 meter," jelas Puji.

Setelah itu, dari Ditjen Perencanaan Ruang Laut (PRL) Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) bantuan datang lagi. Jumlahnya cukup banyak, mencapai 40 tunnel dengan ukuran 4x21 meter.

"Dari sinilah, kami semakin mantap untuk menekuni usaha garam rakyat. Bahkan, pada 2020, kelompok kami mendapat penghargaan Top 45 pelayanan publik. Kami mendapat hibah hingga Rp8 miliar. Dana inilah yang kami gunakan untuk mengembangkan lokasi tunnel garam. Misalnya membangun gudang, memperbaiki peralatan produksi dan menjadikan lokasi seluas 1 hektare tersebut sebagai eduwisata pembuatan garam," paparnya.

Saat ini, lanjut Puji, pihaknya mampu memproduksi 1 ton setiap
pekan, yang terdiri dari garam konsumsi maupun spa.

"Kami memiliki peralatan oven bakar untuk mengolah garam yang telah dipanen. Kapasitasnya bisa mencapai 20 ton giling per hari. Garam yang diproduksi oleh para petani di Miritpetikusan sudah sangat tinggi kadar NaCl-nya. Bahkan, asal bikin garam saja sudah mencapai 95%. Dari pengukuran yang dilakukan provinsi beberapa waktu lalu, kadar NaCl malah sudah di atas 99%," paparnya.

Menurutnya, setidaknya ada tiga produk yang dipasarkan yakni garam
rebus, garam konsumsi biasa dan garam spa. Garam rebus dipatok dengan harga Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kg, kemudian garam konsumsi Rp5.500 per kg dan garam spa Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kg.

"Dari produk itu, ada merek yang sama dengan petani garam lainnya yang dikoordinasikan oleh koperasi. Alhamdulillah, sekarang sudah jalan, meski pendapatan belum terlalu besar. Setiap bulan, per anggota di kelompok kami mendapatkan penghasilan sekitar Rp1,5 juta," papar Puji.

Namun, lanjut dia, warga tidak hanya diuntungkan dari sisi pendapatan. Ada efek domino lainnya.

"Misalnya, sebagai Kampung Garam banyak pengunjung yang datang berwisata, sehingga warga juga memperoleh dampak positif dengan berjualan makanan. Bahkan, ada yang kini menyewakan rumahnya untuk para mahasiswa yang kebetulan magang di Kampung Garam. Dulu kami mendapat cibiran, tetapi kini telah banyak dukungan," tandasnya.


<>Tularkan ilmu<>


Setelah mendapat ilmu dan pelatihan tentang produksi garam, Puji tidak menyimpannya untuk diri sendiri. Ia menularkannya kepada para tetangganya. Di antara mereka ialah Budi Santoso, warga Desa Tlogopragoto, Kecamatan Mirit.

Budi mengatakan, dia memulai menanam garam bersama dengan sejumlah warga lain di Desa Tlogopragoto. Meski pada awalnya, kebanyakan mereka ialah petani, tetapi mereka sudah bertelat untuk mencoba jadi petani garam juga.

"Langkah awal adalah mendirikan kelompok. Ketika berdiri, ada 13 anggota. Kelompok usaha garam rakyat (Kugar) kami beri nama Cirat Segoro Renges (CSR). Saya sebagai ketuanya," kata Budi.

Pada awal pendirian, setiap anggota kelompok mengumpulkan iuran
Rp1,85 juta. Itulah yang menjadi modal untuk pembuatan tunnel garam.

"Sebelumnya, kami sama sekali tidak memanfaatkan Laut Selatan, padahal
setiap hari melihat. Soalnya areal pertanian kami tidak jauh dari laut.
Kami telah bersepakat untuk mencoba. Ternyata, ketika pertama kali
panen, sama sekali tidak mengecewakan. Panenan garam mencapai 3,5 kuintal. Garamnya putih bersih, bagus," ungkapnya.

Usaha itu mendapat perhatian penuh dari pemerintah terutama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono juga sempat menengok CSR di Desa Tlogopragoto yang kini menjadi Tunnel Garam.

"Menteri memberikan arahan dan bantuan untuk pembentukan Kampung
Garam," jelas Budi Santoso.

Pada awal pendirian kelompok, CSR menggunakan areal 5.000 meter persegi
atau 0,5 hektare untuk membangun tunnel-tunnel garam. Ukuran satu tunnel 10x4 meter. Mereka membutuhkan setidaknya 6 tunnel.

Tunnel yang terakhir merupakan tempat pengkristalan garam. Prosesnya belum rampung, karena masih ada pengolahan lanjutan. Dari garam hasil
pengendapan itulah, nantinya bisa dipilih mau dijadikan garam konsumsi
atau garam spa.

Akhir 2020 lalu, melalui Bagian Pemanfaatan Ruang Laut KKP, Kugar CSR
Tlogopragoto mendapat berbagai bantuan. Di antaranya adalah mesin pompa
dan pipanya yang panjangnya hampir 1 kilometer untuk mengalirkan
air laut. Kemudian juga ada pembangunan tunnel dan penataan daerah
setempat menjadi kawasan wisata edukasi garam.

"Bantuan pipa dan mesin pompa, membuat kami tidak lagi kesulitan untuk mengalirkan air dari Laut Selatan," jelas Budi.

Menurutnya, saat ini kelompok mereka telah mempunyai 40 tunnel. Produksi garam yang masih mentah alias belum diolah mencapai 3-4 ton setiap bulan.

"Produksi antara 3-4 ton itu merupakan garam curah. Pengendapannya
membutuhkan waktu 40-60 hari. Ada proses lanjutan untuk dijadikan garam
konsumsi atau spa. Ke depan, kami juga ada mencoba untuk memproduksi
garam piramid. Saat ini infrastruktur bantuan KKP berupa rumah kaca
masih dalam proses penyelesaian. Garam piramid merupakan garam ekspor ke Jepang yang harganya dapat mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram. Kalau untuk garam konsumsi, harga berkisar Rp6 ribu hingga Rp10 ribu per kg," paparnya.

<>Bersatu dalam Koperasi<>

Untuk menjaga agar antara satu kugar dengan kugar lainnya tidak saling bersaing, mereka membentuk koperasi. Dengan adanya koperasi, maka
antarkelompok sepakat untuk memakai satu nama merek dalam produksi mereka.

"Para perajin juga sepakat untuk bernaung di bawah Koperasi Mutiara Samudera Selatan. Dengan demikian, seluruh produk garam dari Kugar Kebumen brand-nya sama," jelas Ketua Koperasi Mutiara Samudera Selatan, Sisnoadi.

Menurut Sisnoadi, pihaknya memiliki tempat untuk memproses garam. Ada
mesin penghalus dan pemrosesan lainnya sehingga kandungan NaCl mencapai
97,73%.

"Pengolahan garam ada di dua tempat yakni di Desa Miritpetikusan,
Kecamatan Mirit dan di koperasi. Produksnya juga telah mendapat
sertifikat SNI maupun halal," tambahnya.

Ia mengatakan, ada 30-an anggota kelompok Kugar di Kebumen yang kini
menjadi anggota koperasi. "Koperasi memiliki tugas untuk memasarkan
produk garam. Setiap bulannya bisa mencapai 6 kuintal dengan packing
berukuran 250 gram untuk garam konsumsi. Kalau dari koperasi,
harganya dilepas minimal Rp1.500 per bungkus. Problem yang dihadapi
sekarang adalah permodalan sehingga ekspansi pasar belum terlalu luas.
Namun demikian, koperasi sudah mulai jalan," tandas Sisnoadi bangga. (N-2)

BERITA TERKAIT