15 October 2021, 22:24 WIB

Lestarikan Seni dan Budaya Lokal, Program Made In Cirebon Kembali Digelar 


Ghani Nurcahyadi | Nusantara

MELANJUTKAN kesuksesan tahun lalu, program Made In Cirebon yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea (MCST) dan Korea Arts and Culture Education Services (KACES) kembali digelar dalam skema Program Pendidikan Seni dan Budaya Korea-Indonesia. Program itu bekerja sama L’Art Company, ARCOLABS, Pemerintah Kota Cirebon, dan Sinau Art.  

Direktur dari Divisi Sumber Daya Pendidikan di KACES, Yujin Hong, mengungapkan, Made in Cirebon tahun ini berlangsung selama Juli-Oktober 2021 yang melibatkan 13 seniman dan sekitar 20 guru serta 175 siswa dari SMPN 1 Kota Cirebon dan SMPN 18 Kota Cirebon. 

"Proyek ini bertujuan untuk menumbuhkan inovasi dan sistem pendidikan seni dan budaya yang berkelanjutan di Indonesia melalui kerja sama dengan seniman lokal. Pendidikan seni dan budaya bisa menjadi metode yang efektif untuk menumbuhkan kreativitas dan imajinasi, kemampuan yang sangat penting dan bisa mengubah kehidupan seseorang,” kata Yujin Hong secara virtual, Jumat (15/10). 

Pada proyek ini, KACES melanjutkan kerja sama dengan ARCOLABS-Center for Art and Community Management sebagai mitra lokal yang menyelenggarakan proyek di Indonesia. Dalam riset yang telah dilakukan sebelumnya, ARCOLABS menemukan adanya tantangan-tantangan genting yang dihadapi oleh pendidikan seni dan budaya di Indonesia, termasuk alokasi jam pembelajaran yang kurang dan bidang keahlian guru.  

Meski telah ada sejumlah upaya pendidikan seni alternatif yang dicetuskan oleh swasta atau kolektif seniman dan pemerintah, upaya-upaya independen ini masih perlu dikaji lebih jauh terkait efektivitas materi dan dampaknya kepada siswa. Made in Cirebon berusaha untuk mencari solusi dari tantangan ini lewat kurikulum yang sudah ada. 

Direktur ARCOLABS Jeong Ok Jeon mengatakan, tujuan itu diterjemahkan lewat fokus program pada kolaborasi dengan seniman lokal melalui model pembelajaran terintegrasi. Untuk memberikan pembelajaran yang komprehensif, kelas-kelas seni ini dikembangkan dengan menggabungkan seni media baru, alam dan pengetahuan lingkungan, budaya dan tradisi lokal, musik, seni, sastra, sains dan seni performans.  

"Melalui pendekatan multidisipliner ini, peserta juga bisa memperdalam minat mereka di bidang seni dan budaya, memperluas pengetahuan mereka akan dunia dengan tetap membuka diri untuk mencari solusi terhadap permasalahan komunitas,” ujar Jeong Ok Jeon. 

Dengan program yang kembali dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19, tema proyek di tahun ini adalah “Trust and Growth” yang berusaha memusatkan perhatian pada kesempatan-kesempatan untuk terhubung kembali, membangun dan mempertahankan rasa percaya, di tengah mobilitas yang serba terbatas untuk bisa mencapai perkembangan diri baik secara personal maupun profesional. 

Pendiri Sinau Art Nico Broer mengatakan, menjalankan program di tengah situasi pandemi memang menantang, apalagi karena di tahun ini melibatkan lebih banyak siswa dan guru.  

Baca juga : 

"Berhubung ini adalah tahun kedua, kami lebih percaya diri dibandingkan tahun lalu, tetapi di saat yang sama ada banyak sekali pembelajaran baru tidak hanya terkait eksplorasi teknik atau medium, tetapi juga tentang budaya dan komunitas lain. Jadi ini adalah pembelajaran dan pengalaman yang penting dan bermakna bagi kami,” pungkasnya. 

Selama Juli hingga Oktober, ada empat kegiatan yang berlangsung. Pertama, workshop for Teaching Artists 26-27 Juli 2021. Lokakarya ini bertujuan memberikan seniman pengajar dan seniman lokal dengan informasi tentang program, masyarakat Indonesia dan Cirebon serta kiat menggabungkan praktik artistik mereka dengan audiens yang berbeda. 

Seniman Pengajar merupakan seniman Korea dan Indonesia dari berbagai displin, diantaranya Park Seung Soon (seniman Mmdia Korea), Aprina Murwanti (pendidik dan seniman tekstil Indonesia), Rizki Taufik Rakhman (pendidik desain grafis dan pencerita Indonesia). 

Kedua, workshop for Local Artists (Sinau Art) 9-14 Agustus 2021. Lokakarya oleh Seniman Pengajar kepada Seniman Lokal di Cirebon, untuk mengembangkan materi pelatihan dan konten kreatif kepada Guru, Siswa, dan masyarakat Cirebon. 

Seniman Lokal dipilih dari kolektif seniman Sinau Art yang berbasis di Cirebon, seperti Agus Rachmat (Tekstil), Bertrand Prayoga (MC), Danny Roza (Fotografi), Hafrizal Suyandi (Musik), Muchamad Faizal (Film), Mulyana (Karawitan), Saeroji (Musik Kontemporer), Saiful Hadi (Sastra), Titis Nur Ennisa (Tekstil), Yeni Yuli Umiyati (Kriya) 

Ketiga, workshop for Teachers and Students 20-24 September 2021 (SMPN 18 Kota Cirebon) dan 27 September-1 Oktober 2021 (SMPN 1 Kota Cirebon). Kegiatan itu workshop ini bertujuan untuk membantu guru dan siswa di Cirebon menggunakan seni dan teknologi sebagai alat belajar, komunikasi, dan berpartisipasi dalam komunitas lokal dan global. 

Di tahun kedua ini, program berlanjut dengan SMPN 1 Kota Cirebon yang telah berpartisipasi pada 2020, dan memulai kerja sama baru dengan SMPN 18 kota Cirebon untuk memperluas cakupan program ke peserta yang lebih banyak. 

Dengan protokol kesehatan yang ketat, total ada 175 siswa dan 20 guru yang berpartisipasi dalam 5 lokakarya yang menggabungkan unsur budaya, sains, alam, dan seni media.  

Keempatm Final Presentation, 15 October 2021. Presentasi Akhir berupa pameran kecil yang menampilkan hasil belajar siswa dan presentasi dari para seniman yang terlibat. Acara ini juga akan menjadi penutupan dari proyek Made in Cirebon tahun 2020. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT