13 October 2021, 22:50 WIB

Pengembangan e-Fishery Menyediakan Kebutuhan Petani Ikan


Bayu Anggoro | Nusantara

INOVASI di bidang perikanan dengan pemberian pakan secara otomatis yang bernama eFishery sudah memasuki tahun ke delapan. Sejak
pertama kali diluncurkan pada 2013 lalu, hingga saat ini sudah tersebar
18 ribu unit di seluruh Tanah Air.

Salah seorang penggagas eFishery, Chrisna Aditya, mengatakan, pihaknya
terus berinovasi dalam mengembangkan produknya tersebut. Selain dengan
mengupayakan efektivitas dalam pemberian pakan, rintisannya itupun kini
melengkapi layanan lain layaknya koperasi.

"Sekarang aplikasi eFishery ini menyediakan berbagai kebutuhan para
pembudi daya ikan," katanya di Bandung, Rabu (13/10).

Sebagai contoh, pihaknya kini menyiapkan pembelian pakan bagi pengguna aplikasinya. Selain itu, rintisannya inipun melayani penjualan ikan dari pembudi daya.
 
"Kita berusaha terus melengkapi, dari informasi seputar harga ikan sampai pengajuan permodalan," ujarnya.

Tak hanya itu, tambah dia, pihaknya pun menghadirkan layanan eFarm,
yakni pendampingan digital bagi petambak udang. "Seperti monitoring
kualitas air, serta pencegahan wabah penyakit," jelasnya.

Bahkan, kini pihaknya pun memfasilitasi pembudi daya melalui eFishery
Academy yang bertujuan menggerakkan anak muda agar aktif dalam membangun industri aquakultur. "Ada tiga program yang ditawarkan, yaitu Aqua Scientist, Aqua Troops, dan Aqua Preneurs," katanya.

Lebih lanjut Chrisna menambahkan industri aquakultur memiliki masa depan yang cerah. Berdasarkan data yang dimilikinya, laju tangkapan ikan laut cenderung stagnan yakni tumbuh hanya 3%-an.

"Tapi kalau aquakultur tumbuh 21% selama enam tahun terakhir. Jadi
potensinya sangat besar," ujarnya.

Perangkat eFishery merupakan alat pemberi pakan otomatis bagi
pembudi daya ikan. Dengan menggunakan ini, pemberian pakan lebih efektif karena disesuaikan dengan jumlah ikan di setiap kolam.

Dengan menggunakan alat yang bisa dipakai hingga kolam ikan seluas 1.000 meter2 ini, pembudi daya ikan pun bisa lebih menghemat biaya dan jumlah produktivitas lebih meningkat. "Juga bisa mengetahui kualitas air secara akurat," tambah Chrisna.

Menurut Chrisna, alat ciptaannya inj dijual seharga Rp5 juta per
unitnya. Namun banyak juga pembudi daya yang memilih menyewa alat ini.
"Kalau sewa, sebulannya Rp300 ribu," katanya. (N-2)

BERITA TERKAIT