13 October 2021, 11:15 WIB

Jalankan Prokes, Siswa SDI Uwa Gunakan Air Asin untuk Cuci Tangan


Gabriel Langga | Nusantara

SEKITAR pukul 06.00 WITA, seluruh siswa-siswi SDI Uwa mulai berdatangan ke sekolah, terutama mereka yang piket pagi. Hal itu dilakukan untuk membersihkan ruang kelas. Sementara siswa yang lain harus datang duluan karena bertugas menimba air sumur yang asin untuk mengisi tempat cuci tangan yang sudah disediakan oleh sekolah di masing-masing ruang kelas.

Untuk mengambil air asin, para siswa yang bertugas pagi harus dengan keduanya tangannya menarik menggunakan tali tanpa adanya katrol. Selanjutnya, air asin tersebut diisi ke ember-ember. Kemudian dari ember, para siswa kemudian mengisinya di alat tempat cuci tangan.

Ketika siswa lainnya datang di sekolah, mereka langsung mencuci tangan dengan air asin menggunakan sabun didampingi masing-masing guru yang sudah menunggu di depan ruang kelas. Hal itu dilakukan agar para siswa-siswi yang tinggal di Pulau Palue bisa mencuci tangan meskipun air yang diisi tersebut merupakan air asin sehingga penegakan protokol kesehatan bisa berjalan demi proses pembelajaran tatap muka di sekolah.

Baca juga: Kasus Positif Covid-29 di DIY Tambah 33, Sembuh 81 Orang

Kepala Sekolah SDI Uwa Simprorosa, melalui humas sekolahnya Daniel Dale, mengaku, sejak dilanda wabah virus covid-19 dan pada saat kasus virus korona Kabupaten Sikka meningkat, pihak sekolah menjalankan proses pembelajaran dengan sistem luring. Para siswa-siswi mendatangi rumah para guru agar proses kegiatan belajar mengajar tetap jalan. 

Ia mengaku selama ini pihak sekolah tidak bisa menjalankan pembelajaran sistem daring karena hampir semua tidak memiliki ponsel dan juga jaringan sinyal di wilayah Pulau Palue hilang muncul.

"Selama kasus covid-19 meningkat di Kabupaten Sikka, kita jalankan kegiatan belajar mengajar dengan sistem luring. Kalau sistem daring tidak bisa karena rata-rata anak-anak yang sekolah di sini dari kalangan orang tidak mampu. Ditambah, di sini jaringan sinyal hilang muncul," papar Daniel saat ditemui mediaindonesia.com, Selasa (12/10) di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dikatakan dia, sejak kasus covid-19 di Sikka mulai turun dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level dua, pihaknya langsung menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di sekolah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan menghindari mobilitas.

Untuk mencuci tangan, kata dia, pihak sekolah menggunakan sumur air asin yang ada di sekolah. Hal itu karena tidak ada air tawar. 

"Kami masyarakat Palue ini untuk minum saja pakai air hujan. Kami di sini kesulitan air bersih. Jadi mau tidak mau kita harus gunakan air asin untuk para siswa dan guru untuk mencuci tangan dengan menggunakan sabun," papar dia.

Untuk itu kata dia, para siswa-siswi yang memiliki tugas piket diminta menimba air asin di sumur untuk diisikan ke tempat cuci tangan yang sudah disediakan sekolah. 

"Biasa untuk kelas satu dan dua itu, mereka punya kakak kelas yang menimba air asin di sumur untuk diisi ke tempat cuci tangan.  Jadi setiap pagi, sebelum masuk kelas, para siswa-siswi harus mencuci tangan dengan sabun meski air asin," tandas dia.

Ia mengaku tidak mempermasalahkan para siswa dan guru mencuci tangan menggunakan air asin. Yang paling terpenting kata dia, pihak sekolah tetap menjalankan protokol kesehatan dan membiasakan siswa dari kecil untuk mencuci tangan demi berlangsung pembelajaran tatap muka di kelas. 

"Kita tetap patuhi protokol kesehatan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas," tandas Daniel.

Dia pun menambahkan para guru dan tenaga kependidikan yang ada di SDI Uwa ini semuanya sudah divaksin covid-19. 

"Semua guru dan tenaga kependidikan di sini sudah divaksin covid-19 semua. Kalau siswa semuanya belum meski sudah berumur 12 tahun," pungkas dia. (OL-1) 

BERITA TERKAIT