12 October 2021, 21:00 WIB

Tangani Stunting, Pemkab Indramayu Libatkan Semua Pihak


Nurul Hidayah | Nusantara

KASUS stunting pada balita di Kabupaten Indramayu, Jawa barat masih tinggi. Upaya penanganan dilakukan dengan melibatkan semua unsur.

Informasi yang dihimpun dari Dinas Kesehatan (Dinkes), total terdapat 125 ribu balita di Kabupaten Indramayu. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Kabupaten Indramayu mencapai 33,19 persen. Kasus stunting tertinggi di Kabupaten Indramayu terjadi di  Kecamatan Gabuswetan, Kandanghaur dan Kertasemaya.

"Berarti total balita yang mengalami stunting sekitar 41 ribu balita. Angka ini tergolong tinggi," tutur Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Indramayu, Deden Bonni Koswara, Selasa (12/10).

Tingginya kasus stunting salah satunya karena pernikahan dini, terutama pada remaja putri. Sehingga berdampak pada ketidaksiapan calon ibu saat menjalani kehamilan maupun saat merawat anaknya pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Selain itu, ibu yang berangkat bekerja keluar negeri menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) juga mempengaruhi kondisi balita yang ditinggalkan. Menurut Deden, ketiadaan ibu yang menjadi TKI membuat pemberian makanan pada balitanya menjadi kurang baik.

"Untuk mengatasi stunting, kami bersama ibu bupati membuat terobosan gerakan penurunan stunting Indramayu secara terpadu dan melibatkan semua unsur," tutur Deden.

Seluruh anggaran, perencanaan dan kebijakan stunting yang ada di seluruh OPD akan dijadikan satu. Tim penanganan stunting juga akan ada di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.

Tingginya angka stunting ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Indramayu. Apalagi sudah ada peraturan presiden (Perpres) No 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.  Dalam Perpres tersebut, pemda diminta menurunkan prevalensi kasus stunting menjadi 14 persen pada 2024. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT