12 October 2021, 16:30 WIB

Menteri Pertanian Panen Padi IP 400 di Sukoharjo


Widjajadi | Nusantara

 

MENTERI Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong pemerintah daerah memberdayakan petani dengan melakukan penanaman padi sistem Indeks Pertanaman (IP) 400, yang mampu menghasilkan panen 4 kali setahun, dengan hasil optimal.

Hal tersebut ditegaskan Mentan SYL ketika melakukan panen padi hasil IP 400 di Desa Tegalsari, Kecamatam Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (12/10).

Ia menegaskan, sistem pertanaman padi 4 kali setahun merupakan salah satu terobosan Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi padi, meningkatkan ketahanan pangan nasional dan nilai tambah yang diperoleh petani.

Menurut dia, Indonesia tidak boleh kalah dengan negara lain dan kehidupan harus lebih baik dari hari kemarin. Dengan optimisme yang dibangun seperti itu, anak bangsa ini harus mampu memperbaiki tanah airnya, menjadi lebih berdaya dari sumber alam yang melimpah.

"Dengan sumber daya yang tersedia di depan mata, seperti di sektor pertanian. Lewat tanam padi dengan IP 400 artinya tanam 4 kali setahun, akan meningkatkan produksi dan pendapatan petani," tambah Menteri, yang ditemani dua anggota DPR RI, yakni Luluk Hamidah dan Eva Yuliana.

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan dua periode ini menjelaskan kegiatan panen di Kabupaten Sukoharjo ini sekaligus memastikan lahan yang cukup baik jangan hanya dimanfaatkan untuk menanam padi sebanyak 1, 2 atau 3 kali dalam setahun, tetapi harus bisa hingga 4 kali setahun.

Terbukti, petani di wilayah Tegalsari, ini mampu membuktikannya di lahan seluas 2.000 hektare dengan menanam padi 4 kali setahun. Hasil per hektare mampu mencapai rata rata 9 ton gabah kering panen.

"Tadi kami sudah tanya ke petani, hasilnya dalam satu musim tanam itu di atas Rp30 juta. Kalau hanya tanam 2 kali setahun, mereka dapat Rp60 juta. Dengan tanam padi 4 kali setahun benar-benar menambah produksi dan penghasilan petani," jelasnya.

SYL menyebutkan untuk mewujudkan program penanaman padi 4 kali setahun tentunya harus didukung dengan ketersediaan air, varietas padi unggul, mekanisasi, korporasi petani dan kelembagaannya harus disusun sehingga dari hulu ke hilir terintegrasi, termasuk aspek pemasaran pun terjamin.

Sesuai perintah Presiden Joko Widodo, lanjut dia, lahan-lahan pertanian yang terkonsetrasi di atas 8.000 hektare harus ditingkatkan dengan membangun kelas rice milling unit (RMU) atau penggilingan padinya.

"Saya tadi sudah minta bupati, agar ada RMU yang harus dinaikkan kelasnya agar bisa dilakukan ekspor. Tentu saja model seperti ini tidak hanya untuk Sukoharjo tapi kita terapkan di seluruh Indonesia," terangnya.

Menurut dia, menanam padi 4 kali setahun adalah model untuk mengoptimalkan lahan. Sehingga jangan sampai 5 bulan lahan  sawah dibiarkan tidak tertanami, sebab itu berarti bahwa ada 1,5 musim tanam yang tidak terpakai berproduksi.

"Nah, ini harus kita kerjakan dengan mekanisasi, memberikan pelatihan atau keterampilan kepada petani, sehingga program berjalan baik," imbuh Menteri Syahrul.

 

Selalu surplus

 

Sementara itu Bupati Sukoharjo, Etik Suryani mengatakan Kabupaten Sukoharjo,  meskipun sebagai kabupaten nomor dua terkecil di Jawa Tengah, setelah kabupaten Kudus, tetapi setiap tahunnya selalu surplus padi. Jumlahnya tidak kurang dari 102 ribu ton.

Realisasi produksi padi pada 2020 lalu, Sukoharjo mampu mencapai 310.778 ton dengan produktivitas padi rata-rata 6,8 ton per hektare.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, di tahun 2021 ini Kabupaten Sukoharjo mendapat alokasi program optimalisasi peningkatan indeks pertanaman seluas 2.000 hektare," kata dia.

Petani menyambut baik program tanam padi 4 kali setahun ini, dan bahkan berharap pemerintah lewat Kementan bisa menambah luasannya menjadi dua kali lipat.

"Petani sanggup memperluas luas lahannya hingga 5.000 hektare, dengan catatan ketersediaan air irigasi tidak terkendala," ungkap Etik.

Ia mengakui tanaman irigasi teknis di Sukoharjo, pada Oktober selalu terkendala irigasi, karena adanya perawatan dam selama sebulan penuh.

 

Solusi lahan

 

Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menambahkan program intensifikasi penanaman 4 kali setahun merupakan solusi dari berkurangnya areal lahan karena alih fungsi lahan serta pertambahan penduduk.

"Kunci program ini ada tujuh, pertama yaitu semai di luar, bisa dengan sistem culik, dapot atau tray dan menggunakan benih umur pendek 70 sampai 90 hari," papar dia.

Yang kedua, melakukan mekanisasi pertanian supaya hemat waktu dan tenaga.

Ketiga, pemakaian pupuk kimia dikurangi secara bertahap hanya urea 25 kilogram per musim per hektare dan menggunkan unsur hara dari kompos, limbah tanaman dan limbah ternak.

Keempat, pola tanam 4 kali setahun terdiri dari padi-palawija-padi-palawija, padi-padi-palawija-padi, padi-padi-padi-padi atau pola tanam lainnya sesuai kondisi setempat.

Kelima, hemat penggunaan air dari sumur atau embung, dan juga pompa air di lahan kering atau tadah hujan dan air diputar untuk berbagai aktivitas pertanian terlebih dahulu.

Keenam, menerapkan integrated farming menuju zero waste, antisipasi dan mitigasi organisme pengganggu tanaman.

Terakhir melakukan hilirisasi dan skala kawasan korporasi sebagai off taker untuk akses KUR.

"Penerapan pertanaman 4 kali setahun berarti mengatur fluktuasi panen karena tanam padi musiman. Karena setahun 4 kali tanam, berarti proses produksi tidak pernah berhenti," tuturnya.

Program yang digagas Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam upaya mendorong petani melakukan optimalisasi indeks pertanian sehingga dapat menanam dan memanen padi sampai dengan 4 kali dalam setahun ini akan membuat capaian berlipat, hingga berpengaruh positif terhadap keberadaan surplus, dengan kualitas baik dan bisa melakukan ekspor. (N-2)

BERITA TERKAIT