11 October 2021, 21:29 WIB

Mewariskan Tradisi Menari Melalui Neba Uel


Alexander P Taum | Nusantara

NAMANG atau halaman tengah kampung adat Lewohala, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sangat ramai. Alunan suara dari gong dan gendang yang ditabuh para pemuda dari suku Balawanga, beradu suara dengan gemuruh gunung berapi Ile Lewotolok.

Selain asap, puncak kawah Gunung berapi Ile Lewotolok juga mengeluarkan api saat bergemuruh. Namun masyarakat adat Lewohala, tidak khawatir kampung adat itu berjarak hanya 3 kilometer dari puncak kawah Ile Lewotolok.

Sejak 28 September hingga 2 Oktober 2021, masyarakat adat Lewohala menggelar ritual adat pesta kacang. Dalam bahasa setempat, disebut Ute Weru Lolo.

Hari pertama ritual adat tahunan itu diawali Neba Uel atau tarian  anak-anak. Puluhan anak perempuan berbusana Wate (sarung) serta Senai (selendang). Mereka menari dalam gerakan feminim. Kakinya bergeming, hanya kedua tangan memegang senai (selendang) dengan gerakan gemulai.

Sedangkan, anak laki-laki mengenakan Nowi (sarung) dengan parang serta tombak di dua tangannya. Mereka menari dalam gerakan ritmis. Kakinya menghentak-hentak, sedangkan tangannya memegang parang sambil memeragakan atraksi memotong dan menangkis.

Puluhan anak-anak ini menarikana tarian yang oleh masyarakat adat setempat disebut Neba, bagian dari ritual adat pesta kacang dalam masyarakat adat Lewohala. Dalam ritual Ute Weru Lolo, Neba atau menari terbagi dalam dua kelompok yakni Neba Uel yakni tari-tarian oleh anak-anak dan Neba Bele atau menari yang melibatkan remaja dan dewasa. Dalam Neba Uel, beberapa orang dewasa terlibat untuk mengajarkan anak-anak menari.

Elias Keluli Making, tokoh masyarakat adat Lewohala menjelaskan, pesta kacang adalah ritual syukuran atas rejeki yang diterima, sekalian ujud doa untuk kesuksesan pada tahun berikut. "Tarian ini wujud kegembiraan masyarakat adat Lewuhala atas semua kesuksesan yang dialami," ujar Elias, Senin (11/10).

Elias menandaskan, ritual Ute Weru Lolo kaya akan  nilai. Dia hadir dan terwariskan dari generasi.

Dalam sejarah Lewohala, sebut Elias, pesta kacang tidak pernah berhenti. Terus berlanjut dalam kondisi apapun. Dan masyarakat adat Lewohala berbudaya, bukan karena pariwisata. Ini aset Lembata yang patut dijaga dan dirawat bersama.

"Ini bukan semata-mata tanggung jawab orang Lewohala semata, tetapi menjaga dan merawat aset budaya ini. Jadi ini merupakan tanggung jawab bersama orang Lembata dan terutama juga pemerintah lokal," ujar Elias.

Tentang gemuruh yang terus dikeluarkan dari puncak kawah Ile Lewotolok, Elias menanggapi santai. "Kami punya mitigasi lokal tentang bahaya gunung api. Dari pengamatan-pengamatan visual dan juga dari adat kami juga percaya bahwa gunung sebagai tempat bersemayam arwah leluhur tidak mungkin mencelakakan anak turunannya," ujar Elias.

Neba Uel dalam ritmik musik gong dan gendang akan terus ditarikan masyarakat adat Lewohala yang tersebar di delapan desa, dari Desa Jontona sampai ke Desa Petuntawa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Soka Neba Uel menjadi cara agar tarian ini tak lekang digerus zaman. (OL-15)

BERITA TERKAIT