08 October 2021, 22:00 WIB

Toleransi itu Rela Memberi, Inspirasi Kerukunan Agama di Lembata


Alexander P Taum | Nusantara


TETABUHAN Gong dan Gendang berpadu dengan tarian adat menurut budaya
Kedang, menambah semarak acara di pagi itu.

Tokoh Masyarakat desa Walangsawa, Musa Manaf, menjelaskan, tetabuhan
gong dan gendang serta tarian adat itu sebagai ungkapan selamat datang kepada tamu dalam tradisi budaya masyarakat Adat Kedang. Ameq Sabong Keu Tebeq, begitu warga setempat menyebut tradisi itu.

Hari itu, Sabtu, 25 September 2021, pukul 10.30 WITA, Rektor IKIP Muhammadiyah Maumere, Erwin Pasetyo, berkunjung ke Desa Walangsawa,
Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Rektor Muhamadiyah ini bersilaturahim sekaligus meninjau lokasi
pembangunan SMK Muhammadiyah. SMK Muhammadiyah ini akan menjadi satu-satunya Amal Usaha Muhammadiyah yang berada di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Erwin dibuat terkagum-kagum saat meninjau tanah wakaf seluas kurang lebih 2 hektare di Desa Walangsawa Kabupaten Lembata, yang direncanakan untuk pembangunan SMK Muhamadyah.

Pasalnya, ia menemukan fakta yang menurutnya unik. 3 warga beragama
Katolik, dengan sukarela menghibahkan tanah mereka untuk pembangunan SMK Muhamadyah.

"Ini sangat Luar biasa dan unik. Sebab baru kali ini saya temukan ada
saudara kita beragama Katolik yang menghibahkan tanah mereka untuk
Muhammadiyah," jelasnya.

Ketua Panitia Pembangunan SMK Muhamadiyah, Ridwan Weleng, mengatakan,
ada 6 pemilik tanah pada lahan seluas 2 hektare itu. Mereka menghibahkan tanah mereka hanya untuk pembangunan SMK Muhamadyah itu.

"Tiga di antaranya warga yang beragama Katolik. Surat hibah sudah
ditandatangani, sekarang masih menunggu surat Wakaf dari KUA," ujar
Ridwan Weleng.

Para pemilik tanah tersebut yakni, Ridwan Akbar, Antonius Amo dan
Abdulanda Kadir. Mereka adalah pemilik lahan pada lokasi pembangunan SMK Muhamadyah.

Kemudian, pemilik tanah yang menghibahkan tanahnya untuk jalan masuk ke
SMK yakni, Ridwan Akbar, dengan pengelola tanahnya Mansyur Ama, Arsyad,
Bernadus Bara dan Mateus Mudin.

Ketua Panitia Pembangunan SMK Muhamadyah, mengatakan, pemilik tanah
tersebut menghibahkan tanah tanpa imbalan.

"Mereka menghibahkan tanah secara tulus dan ikhlas, dengan satu harapan
anaknya bisa sekolah, dan kalau sudah punya pendidikan, mereka bisa
mengabdi di kampung ini," ujar Ridwan Weleng.

Ridwan Weleng mengatakan, ketiga warga Desa Walangsawa beragama Katholik itu masih keluarga dekatnya. Hubungan kekerabatan ini menciptakan toleransi antar umat beragama yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.

"Itu kami keluarga dalam satu suku dengan saya. Soal toleransi dan
kerja sama seperti ini mungkin hanya ditemui di daerah Lembata ini," ujar Ridwan.

Disebutkan, perbedaan agama di Kedang bahkan ditemui dalam satu
keluarga. "Ada keluarga yang bapaknya Islam, anaknya Katholik. Ada pula proses kawin mawin antar keluarga Islam dan Katholik. Kami di sini sudah biasa. Jadinya toleransi dan kerja sama antar agama di sini sangat  kuat," ujar Ridwan.

Rektor Muhamadiyah mengaku kagum ada warga mayoritas yang menghibahkan tanahnya untuk pembangunan SMK Muhamadyah. Tidak seperti di daerah lain yang melarang pembangunan rumah ibadat bagi kaum minoritas.

"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Kita akan tindaklanjuti secepatnya pembangunan SMK Muhammadiyah di Kabupaten Lembata," tambah Erwin Prasetyo. (N-2)

BERITA TERKAIT