08 October 2021, 11:45 WIB

PWNU dan PCNU Sumsel Dukung Gus Yahya


mediaindonesia.com | Nusantara

PENGURUS Wilayah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Sumatra Selatan kompak mendukung KH Yahya Colil Staquf (Gus Yahya) menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU yang akan digelar 23-25 Desember 2021 mendatang.

Dukungan ini mereka sampaikan dalam silaturahim PWNU dan PCNU Sumsel yang digelar secara hibrid, daring maupun luring, di Palembang, Kamis (7/9).

"Seluruh PCNU se-Sumsel mendoakan Gus Yahya mudah-mudahan Desember 2021 (saat Muktamar NU) menjadi Ketua Umum PBNU," kata Ketua PWNU Sumsel KH Amiruddin Nahrawi yang diamini seluruh pengurus PWNU dan PCNU yang hadir.

Tak hanya mendukung Gus Yahya, PWNU dan PCNU Sumsel juga mendoakan dan mendukung KH Miftachul Ahyar kembali menjadi Rois Aam PBNU. "Sekali lagi kita doakan Gus Yahya menjadi Ketum PBNU dan KH Miftachul Ahyar menjadi Rois Aam PBNU, alfatihah," ujar Kiai Amir.

Sementara itu, Ketua PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang turut hadir dalam silaturahim secara daring mengajak seluruh pengurus PWNU dan PCNU Sumsel tidak sekadar mendukung, tapi juga berjuang bagi Gus Yahya.

"Tadi Cak Amir (KH Amiruddin) mendoakan Gus Yahya. Mendoakan berarti berjuang agar PBNU bisa lebih baik lagi. Kita ingin NU lebih baik lagi," kata Gus Ipul.

Menurutnya, memperjuangkan Gus Yahya sebagai ketum baru adalah sebuah kewajiban karena Gus Yahya juga merupakan salah satu kader muda NU yang sudah sejak awal disiapkan oleh KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) menjadi Ketua PBNU.

"Dan Gus Yahya adalah salah satu yang disiapkan oleh Gus Dur. Dan kita berharap NU lebih baik lagi," ujar Gus Ipul.


Baca juga: Muhammadiyah Dirikan Universitas Siber Muhammadiyah


Hal yang sama diungkapkan Nusron Wahid yang dalam silaturahim kali ini hadir di Palembang. "Bahwa NU mendatang mutlak dipimpin yang muda. PBNU memerlukan perubahan kepemimpinan yang lebih fresh," kata Nusron.

Mantan Ketua Umum GP Ansor ini mengatakan, peta demografi dunia saat ini didominasi kaum muda sehingga lahan dakwah NU-pun juga di lingkungan anak muda. "Itulah kenapa NU membutuhkan Gus Yahya. Apalagi beliau ini ke-NU-annya tidak diragukan lagi karena putra KH Cholil Bisri dan keponakan KH Mustofa Bisri," ujar Nusron.

Selain harus muda dan energik, kepemimpinan PBNU juga harus berbasis pesantren namun tidak ketinggalan dengan dunia modern. "Setelah dipilah, Gus Yahya ini yang pas. Bahkan Kiai Sepuh Lirboyo, Ploso, Sidogiri, Madura menjatuhkan pilihan ke Gus Yahya. Saya yakin sudah melalui proses yang tuntas. Selain menggunakan akal tapi juga menggunakan justifikasi spiritual yakni jalur istikharah," kata Nusron.

Sementara itu, Gus Yahya yang mengikuti silaturahim dengan daring mengajak semua kekuatan di NU bergabung untuk membawa dan merumuskan perubahan di NU.
 
"Saya ingin mengajak bergabung dengan kami, bergabung dengan berbagai wilayah di Indonesia untuk bersama-sama mendorong pembaharuan peradaban yang dipimpin NU," kata Gus Yahya.

Saat ini, NU menuju usia 100 tahun. Artinya NU akan menuju ke abad kedua yang memerlukan gerakkan yang lebih nyata. "Tidak ada satu pihakpun di dunia ini yang tidak ingin bekerjasama dengan NU. Bukan hanya pemerintah, politisi pengusaha semua ingin bekerja sama
karena tahu NU merupakan kekuatan yang besar," kata dia.

Di akhir sambutannya, Gus Yahya lantas menyampaikan kutipan pendiri NU KH Hasyim Asyari 'Barang siapa mau merawat NU, maka dia akan aku anggap sebagai santriku. Barang siapa menjadi santriku aku akan mendoakan semoga dikaruniai khusnul khotimah'. Demikian kata Gus Yahya yang juga Katib Aam PBNU ini. (RO/S-2)

BERITA TERKAIT