07 October 2021, 21:10 WIB

Banyak Warga yang tidak Memikirkan Pengeluaran di Masa Senja


Bayu Anggoro | Nusantara


BANYAK masyarakat Indonesia termasuk yang memiliki investasi
yang menganggap enteng pengeluaran di masa pensiun. Hal ini terungkap
berdasarkan Manulife Investor Sentimen Index XI (MISI XI).

Survei itu menemukan bahwa 96% investor yakin mereka akan tetap memiliki gaya hidup yang sama seperti saat ini.

Direktur dan Chief EB & Syariah Distribution Manulife Indonesia, Karyadi Pranoto, mengatakan, banyak investor yang merasa kehidupannya akan lebih baik lagi di masa pensiun nanti. Padahal, mereka tidak menyadari bahwa simpanan mereka akan terus menyusut akibat pengeluaran di masa pensiun dan pada akhirnya akan membahayakan keuangannya.

"Survei ini mengungkap bahwa investor Indonesia memiliki risiko yang
tinggi akibat kurang siap menghadapi realitas finansial di masa pensiun
nanti," katanya, Kamis (7/10).

Menurutnya, mayoritas investor optimis akan masa depan mereka. Sebanyak 71% investor yakin bahwa mereka sudah berada di jalur yang tepat untuk mencapai beragam tujuan keuangannya.

Bahkan, 10% di antaranya yakin mereka akan melampaui target.
"Sebaliknya, hanya 19% investor yang merasa khawatir akan kehabisan uang pada masa pensiun nanti," ujarnya.

Terlepas dari optimisme para investor untuk mencapai target simpanannya, menurut Karyadi, mereka tetap perlu mengambil langkah-langkah yang memadai untuk melindungi masa depan keuangannya.

"Walaupun para investor menempatkan perencanaan pensiun sebagai salah satu prioritas keuangan yang utama, menempati peringkat kedua setelah pendidikan anak, namun hampir seperempat dari investor (24%) mengalokasikan kurang dari 10% tabungannya untuk simpanan dana pensiun," katanya.

Selain itu, terdapat 57% yang berharap dapat mengumpulkan tabungan untuk masa pensiun sebesar maksimum Rp100 juta, yang akan habis dalam waktu dua sampai tiga tahun-dengan pertimbangan rata-rata pengeluaran rumah tangga mereka saat ini sebesar Rp4 juta per bulan.

"Senang sekali melihat investor di Indonesia sangat antusias mempersiapkan masa depan mereka. Namun untuk merasakan pensiun yang nyaman dibutuhkan waktu dan perencanaan yang tepat," tambah Karyadi.

Menurutnya tidak ada jalan pintas untuk hal tersebut sehingga investor
harus realistis akan biaya masa depan mereka termasuk biaya kesehatan
dan kewajiban pada keluarga.

"Investor tidak tahu bagaimana cara memaksimalkan kekayaan mereka. Survei ini juga mengungkapkan bagaimana sebagian investor masih salah dalam memahami produk investasi dan potensi keuntungannya, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan kekayaannya. Hampir semua investor (94%) masih beranggapan  bahwa tabungan dan deposito adalah produk investasi," paparnya.

Keengganan investor dalam mengambil risiko juga turut membatasi
kemampuan mereka untuk mengumpulkan kekayaan. Hampir tiga perempat (74%) dari investor Indonesia lebih memilih investasi yang berisiko rendah.

Dengan menempatkan mayoritas (60%) dana pensiunnya di produk
non-investasi yang menawarkan risiko rendah namun memberikan imbal hasil yang rendah, sebagian besar investor (65%) merasa yakin bahwa mereka telah cukup melakukan diversifikasi portofolio. (N-2)

BERITA TERKAIT