07 October 2021, 08:35 WIB

PTM di NTT Dibuka, Laiskodat Ingatkan Covid-19 Belum Hilang


Palce Amalo | Nusantara

GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat mengingatkan, sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) memantau secara serius siswa dengan penyakit bawaan agar terhindar dari covid-19.

Terutama siswa usia di bawah 12 tahun yang belum berhak menerima vaksinasi covid-19 dan memiliki penyakit bawaan. Saat ini ratusan sekolah di NTT sudah menggelar PTM terbatas antara 2-3 jam. Namun, saat PTM digelar penuh siswa berada di sekolah sekitar delapan jam per hari.

"Anak-anak hampir menghabiskan waktu terbaik mereka di sekolah, artinya sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, bersih dan sehat apalagi di masa pendemi Covid-19 saat ini," kata Laiskodat di Kupang, Kamis (7/10).

Hal tersebut yang mendorong Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan instansi lainnya menggagas Webinar Series untuk menginisiasi langkah proteksi dini terhadap anak-anak di sekolah. Kegiatan ini dilakukan lewat 'Sekolah Ramah Anak untuk Sanitasi' dengan penerapan 'Sekolah Aman' dalam rangka persiapan pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19.

Sementara itu, UNICEF sebagai lembaga PBB yang mendapat mandat untuk memastikan setiap hak anak terpenuhi, turut mendukung kegiatan tersebut dengan menggandeng mitra Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI). Kegiatan ini akan melibatkan sekolah mulai dari PAUD sampai sekolah luar biasa (SLB) mulai 11-13 Oktober 2021 di Kota Kupang melalui sistem daring dan luring.

Gubernur Viktor Laiskodat mengapresiasi gagasan dari kegiatan tersebut, dan kembali menekankaan aspek kesehatan lingkungan, perilaku menjadi penting untuk diperhatikan karean berkorealasi dengan penyakit yang muncul di masyarakat. "Tugas pemerintah adalah memastikan orang sakit untuk segera menjadi sembuh dan memastikan orang sehat untuk tetap sehat," ujarnya.

Kepala Dinas DP3A NTT dokter Iien Andriany mengatakan peserta dibagi sesuai kategori sekolah yang menjadi kewenangan provinsi serta kabupaten dan kota."Hari pertama dan kedua membahas pentingnya air, sanitasi dan Hygiene serta manajemen kebersihan dan Kesehatan menstruasi di sekolah ramah anak, alokasi pendanaan untuk sanitasi di sekolah, dan kebijakan pembelajaran tatap muka di NTT," kata Dokter Iien.

Selanjutnya pada hari ketiga, akan dibahas tentang pentingnya pemantauaan 3M Covid-19, serta situasi terkini Covid-19, vaksinasi bagi pengajar dan remaja serta protokol kesehatan di satuan pendidikan dan madrasah.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan NTT dan NTB, Yudhistira Yewangoe menambahkan dukungan Sekolah ramah Anak di masa pandemi ini sangat penting karena akan membantu penerapan Protokol Kesehatan 5M, sehingga dapat mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

Untuk memutus penyebaran Covid-19, para Guru dan tenaga kependidikan harus mendapat prioritas untuk divaksin secara lengkap agar guru dan anak-anak tidak mudah terinveksi Covid-19. Menurutnya, kegiatan ini digelar untuk membangun pemahaman pihak-pihak sekolah di NTT dalam rangka penyelenggaraan sekolah ramah anak dan menginisiasi manajemen kebersihan dan kesehatan menstruasi di sekolah. (OL-13)

Baca Juga: Pantau Vaksinasi Gubernur Kalsel Bagikan Sembako

 

BERITA TERKAIT