01 October 2021, 15:41 WIB

Peternak Ancam Lepaskan Ribuan Ayam di Bale Kota Tasikmalaya


Kristiadi | Nusantara

ANJLOKNYA harga telur di berbagai daerah, termasuk Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, membuat peternak akan melepaskan ribuan ayam di halaman Bale Kota. Peternak ayam akan berupaya melakukan upaya tersebut sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah yang tidak tanggap terhadap keterpurukan mereka.

Seorang peternak ayam petelur, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Nandang Suryana, mengatakan pihaknya sudah berat dalam membeli pakan yang masih mengalami kenaikan harga dan di saat bersamaan harga telur turun secara drastis.

"Ketika harga telur naik drastis pemerintah di Kota Tasikmalaya bersama Bank Indonesia langsung bergerak bersama tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendatangi para petani dengan alasan harga telur telah menyebabkan naiknya inflasi. Akan tetapi, ketika saat petani terpuruk yang terjadi sekarang pemerintah daerah seolah hanya lepas tangan tanpa ada bantuan apapun," katanya, Jumat (1/10).

Ia mengatakan, kerpurukan peternak ayam petelur sudah terjadi sejak dua bulan lalu dan belum ada perhatian Pemerintah Kota Tasikmalaya. Para petani sangat membutuhkan pemerintah hadir di tengah kondisi pandemi covid-19. Saat ini peternak beralih ke usaha lain supaya ada dana untuk menutupi kerugian.

"Keterpurukan yang terjadi sekarang membuat para petani mau tidak mau membagikan telur kepada masyarakat secara gratis, karena tidak mau telur yang dihasilkannya tersebut membusuk," ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Tasikmalaya Tedi Setiadi mengatakan, harga telur ayam yang terjadi di beberapa wilayah di Priangan Timur memang terus mengalami penurunan dan sekarang berdasarkan data dari para peternak lokal harganya Rp14.900 per kg. Padahal normalnya Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per kg. Akan tetapi harga telur dari Blitar lebih murah yakni Rp14 ribu dan pengecer di pasaran menjual Rp19 ribu per kg.

"Penurunan harga terjadi karena kondisi PPKM dan ada bantuan langsung berupa sembako yang di dalamnya ada telur. Ini mengakibatkan permintaan telur di pasaran menjadi menurun. Kebutuhan telur di Kota Tasikmalaya mencapai 464 ton per bulan dan kebutuhan per tahun 5.565 ton. Solusinya sekarang sesuai masukan bahwa masyarakat memanfaatkan produk lokal," paparnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT