29 September 2021, 09:35 WIB

Difabel di Lembata Terpilih jadi Instruktur di BLK


Alexander P. Taum | Nusantara

TIDAK banyak impian selain dapat berdiri di kakinya sendiri. Berbagai upaya dilakukannya bersama keluarga untuk dapat hidup mandiri dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, bekal hidupnya sendiri dan membina rumah tangga.

Meski terlahir sebagai penyandang disabilitas, perjuangan keras Yakobus Pationa untuk belajar Tata Busana kini berbuah hasil. Kini, dia dipercaya menjadi Instruktur Kursus Tata Busana pada Balai Latihan Kerja (BLK), Komunitas Karitas Peduli, Yayasan Gunthil Karitas.

Yayasan yang beralamat di Desa Pada, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur ini diasuh Susteran konggergasi SSPS. Ditangan Pationa, sudah tiga angkatan kursus telah dihasilkannya.

Yakobus Pationa, lahir di Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, NTT, pada 27 Januari 1977.

Ia menyandang disabilitas sejak lahir. Kaki sebelah kirinya kecil dan tidak dapat dipergunakan untuk menjejakan kaki di tanah.

Setelah menamatkan belajarnya di SMP St Pius x, Lewoleba Tahun 1996, Yohanes Pationa direkrut Suster Sita untuk bekerja di RS Bukit. Kala itu ia ditugaskan untuk menjadi penata taman di RS Bukit Lewoleba.

Upaya Keras

Oleh Suster Sita, Akon, nama panggilan Yakobus Pationa, diajak untuk mengoperasi kakinya ke RS Damian Cancar, milik konggergasi SSPS. Kebetulan, ketika itu, ada operasi geratis bagi penyandang disabilitas.

"Ada dua pilihan waktu itu, operasi di Cancar atau di Australia. Saya pilih dioperasi di Cancar. Jadilah pasang brace, alat bantu jalan. Bagian pergelangan lutut bagian dalam pada kaki kiri saya dibelah untuk mengurai urat yang kusut. Kemudian bagian pergelangan kaki kiri saya pun di operasi. Setelah itu, selama 6 bulan saya hanya bisa tidur karena dipasangi gips. Setelah itu saya jalani terapi 6 latihan jalan dengan alat bantu brace," ujar Akon.

Akon menuturkan, waktu 6 bulan saat menanti dokter membuka gips, dirinya di tawarkan untuk belajar keterampilan. "Saya mulai belajar buat Rosario dengan bingkai hiasan dari Gelagah, meskipun dengan gerak terbatas di tempat tidur. Saat itu kreativitas saya mulai dirangsang," kenang Akon.

Di RS Damian, Cancar, banyak penyandang disabilitas, harus pilih keterampilan yang bisa dipelajari untuk pegangan hidup saat kembali ke kampung halaman.

"Saya belajar menjahit di Susteran. Awalnya ikut-ikutan Agus Nunu, sesama penyandang disabilitas yang tergolong senior. Dia belajar tata boga usai menjalani  operasi di Surabaya," ujar Akon.

Ia juga belajar menjahit dengan cara menonton para penjahit yang membuka pelayanan di pasar Kota Ruteng.

"Saat merantau, saya harus belajar banyak. Saya juga harus belajar biar bisa mandiri. Mulai Ikut orang, lamar kerja dengn gaji seadanya. Semuanya saya lakukan untuk mengasah kemampuan menjahit," kata Akon.

Untuk menghasilkan sebuah jahitan, jelas Akon, perlu melewati tahapan yang berbeda-beda. Tujuannya, sebuah jahitan harus dapat diselesaikan secara ringkas.

"Dimulai dengan buat pola dasar sampai design pakaian. Setiap orang melakukannya dengan tahapan berbeda-beda. Saya selalu mencari cara agar tahapan jahitan harus lebih ringkas," ujar Yakobus.

Waktu keluar dari Susteran, ia kemudian membuka jahitan sendiri di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Ia menyewa sebuah rumah kosong di pinggir jalan. Dengan harga sewa kios Rp25 ribu per bulan.

Pada tahun 2000 ia memutuskan untuk kembali ke Lembata dan membina rumah tangga.

Usaha menjahitpun dirintisnya dengan modal hibah dari Pastor Eugene Schmit, SVD, pastor Deken Lembata kala itu. Modal itu dipergunakan untuk membeli kain dan benang.

Sayangnya, pada saat Pasar Inpres Lewoleba terbakar, kios tempatnya berusaha ikut ikutan dijarah.

Namun ikhtiarnya untuk tetap mandiri, terus dijalaninya. Akon pun memilih menjadi tukang ojek guna menghidupi isterinya.

Menikahi Perempuan Pekerja Sosial

Bulan Oktober 2000, Akon menikahi Yustina, perempuan yang bekerja sebagai Tenaga kontrak di kantor Lurah Lewoleba Barat. Yustina pernah sekolah menengah Pekerja sosial, jurusan Pengembangan masyarakat (penyandang cacat) di SMA Surya Mandala, Waiwerang, Adonara.

"Saya pernah menjadi Pekerja sosial. Pada saat Praktek juga sering bersama panyandang disabilitas. Karena itu saya tidak asing dengan penyandang disabilitas," ujar Yustina.

Sementara itu, Suster Margareta Ada, SSPS, direktur BLK Yayasan Guntil Caritas, menjelaskan alasannya mempekerjakan Akon sapaan Yakobus Pationa, penyandang disabilitas, sebagai instruktur kursus Tata Busana.

"Kami lebih berfokus pada skill seseorang, terlepas dia itu penyandang dissabilitas atau tidak. Saya punya beberapa isntruktur tapi saya lakukan seleksi alamiah," ujar Suster Margareta.

Menurut Suster Margareta, Yakobus ini didikan SSPS, St.Damian Cancar di Manggarai, karena itu semangat disiplin, nilai kerja tidak tunggu dibayar, loyalitas dan pengabdian sudah tidak diragukan lagi.

"Selain itu dari aspek sosial dia adalah kepala keluarga walaupun istrinya PNS. Walau tidak janjikan gaji besar, kami sangat perhatikan beliau. Meski belum kantongi sertifikat instruktur, kami sedang cari cara untuk mendapatkan sertifikat instruktur," ujarnya.

Menurut dia, Yakobus sangat terampil, tekun, dan mau belajar. Tidak segan menimba ilmu dan memberikan ilmunya ke orang lain. "Dia mensejajarkan skilnya yang tinggi dengan peserta yang baru merangkak dari bawah, itu saya acungi jempol," ujar Sr. Margareta

Balai Latihan Kerja (BLK)  Yayasan Guntil Caritas, membuka kursus Tata Busana Level 1 dan level 2, Tata Boga, Bahasa Inggris untuk anak dan dewasa serta informatika dan komputer.

Saat ini, BLK itu Sedang membangun gedung baru. Tahun depan, 2022, rencananya meluncurkan program limbah plastik. Teknisi sudah datang, tinggal pihak BLK merekrut operator. (OL-13)

Baca Juga: Penyidik Jampidsus Respons Dugaan Korupsi di Krakatau Steel

 

BERITA TERKAIT