21 September 2021, 22:47 WIB

26% Remaja Putri Di Tuban Alami Anemia, Pemkab Waspadai Stunting


M Yakub | Nusantara

MESKI angka stunting di Kabupaten Tuban, Jawa Timur berada di bawah angka nasional, namun pemerintah setempat fokus dalam penanganan persoalan stunting. Hal ini disebabkan 23%-26% persen remaja putri di  Tuban mengalami anemia yang beresiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah.

Kabid Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Pipin Diah Larasati menyatakan, masyarakat juga harus dilibatkan dalam penanganan stunting. Bahkan, jika diperlukan pihak swasta hingga pendampingan dari universitas.

Instansinya, kata dia, juga telah membuat program yang mendukung dalam upaya konvergensi stunting. Antara lain meliputi tiga aspek dalam membangun ketahanan pangan yaitu, ketersediaan, keterjangkauan, dan aspek kemanfaatan.

"Kami fokus disini dan berkolaborasi dengan TP PKK melalui program pemanfaatan pekarangan rumah, dan Ibu Cerdas B2SH. Lalu juga bagaimana mendorong untuk pengaktifan kembali lumbung pangan di desa-desa," urainya, dalam sebuah diskusi public, Selasa (20/9).

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Tuban, Lulut Purwanto menambahkan, semua pihak harus bergerak bersama untuk mengatasi masalah stunting. Menurut dia, penekanan pada seribu hari kehidupan, dari janin hingga anak berusia 2 tahun menjadi penting untuk dilakukan.

Ia menjelaskan, hingga bulan timbang Februari 2021, angka stunting Tuban mencapai 12,24 persen yang melebihi target RPJMN 2024 yaitu kurang dari 14 persen. Dengan demikian, locus penanganan akan dilakukan di beberapa desa yang memiliki kasus stunting tinggi.

"Kita fokus pada pencegahan untuk remaja wanita dan juga dewasa yang belum  menikah. Calon pengantin wanita agar memiliki bekal dalam memberi gizi yang cukup dan seimbang mulai di 1.000 hari pertama anak, yaitu dimulai dari masih janin," terang Lulut. (OL-15)

BERITA TERKAIT