21 September 2021, 10:03 WIB

Masjid dan Makam Sultan Suriansyah, Wisata Sejarah dan Religi di Kota Banjarmasin


Denny Susanto | Nusantara

KALIMANTAN Selatan (Kalsel) dikenal sebagai daerah yang religius, tempat agama Islam masuk dan berkembang sejak abad 16. Karenanya, tidak salah jika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyebut daerah itu memiliki potensi menjadi tujuan wisata religi kelas dunia.

Ribuan tempat ibadah, langgar, dan masjid berdiri kokoh hingga ke pelosok 13 kabupaten/kota di provinsi ini. Sebagian di antaranya memiliki nilai sejarah dan telah menjadi obyek wisata sejarah dan religi yang banyak dikunjungi tidak hanya masyarakat lokal bahkan mancanegara.

Salah satunya adalah masjid dan komplek makam Sultan Suriansyah yang berada di Kampung Kuin, tepatnya di tepi anak Sungai Barito di Kota Banjarmasin. 

Baca juga: Ulama Se-Jawa dan NTB Gelar Doa Bersama Agar Petani Dapat Keberkahan

"Masjid dan komplek makam Sultan Suriansyah merupakan salah satu obyek wisata religi di Kota Banjarmasin yang banyak dikunjungi wisatawan," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin Ikhsan Alhaq.

Selain Masjid Sultan Suriansyah di kota berjuluk seribu sungai itu terdapat sejumlah bangunan masjid maupun makam ulama yang memiliki nilai sejarah dan banyak dikunjungi peziarah di antaranya Masjid Jami dan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Bangunan Masjid Sultan Suriansyah, yang merupakan masjid tertua di Kalsel itu, berdiri kokoh di tepi sungai sekaligus menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah jalur rempah nusantara kala itu. 

Bangunan masjid terbuat dari kayu ulin pilihan dengan arsitektur perpaduan Islam dan Hindu, terutama arsitektur Masjid Demak.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Bani Noor Muhammad, mengatakan berdasarkan hasil penelitian tentang sejarah jalur rempah nusantara di Kalsel ada banyak pengaruhnya terhadap budaya dan arsitektur khas Banjar. 

Masjid Sultan Suriansyah menandai puncak kejayaan Kerajaan Banjar berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah pada 1595-1638 masehi.

Memang proses masuknya Islam ke tanah Banjar pada abad 16 berkaitan erat dengan campur tangan Kerajaan Demak. 

Menurut sejarah, kawasan Kampung Kuin dan Masjid Sultan Suriansyah kala itu merupakan wilayah dan menjadi benteng Kesultanan Banjar. Termasuk pusat perdagangan beragam komoditas terutama rempah, madu, rotan, damar, kulit binatang, emas dan intan.

Karena sudah berusia cukup tua, hampir 500 tahun, bangunan masjid dan komplek makam Sultan Suriansyah beberapa kali direnovasi, namun dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya. 

Oleh Pemko Banjarmasin, kawasan ini juga dijadikan Kampung Wisata karena masih banyak terdapat bangunan kuno atau rumah penduduk dengan arsitektur khas Banjar.

Dari pusat Kota Banjarmasin, kawasan wisata sejarah dan religi itu hanya memerlukan waktu 10-15 menit. Namun bisa juga dijangkau lewat jalur sungai menggunakan perahu motor (klotok) dari siring tepi Sungai Martapura. 

Komplek makam Sultan Suriansyah sendiri berjarak sekitar 500 meter dari Masjid Sultan Suriansyah yang berisi belasan makam keluarga kerajaan juga makam Sultan Suriansyah itu sendiri.

Pemko Banjarmasin juga memperbaiki dermaga di depan masjid dan komplek makam Sultan Suriansyah yang menjadi akses transportasi jalur sungai bagi pengunjung serta wisata susur sungai. 

Kawasan itu juga berdekatan dengan obyek wisata Pasar Terapung Kuin yang ada di tepi Sungai Barito. (OL-1)

BERITA TERKAIT