17 September 2021, 17:43 WIB

Gerakan Satu Hati di Indragiri Hilir Kumpulkan Rp 200 Juta untuk Atasi Stunting


mediaindonesia.com | Nusantara

DATA Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada Februari 2021 menunjukkan, terdapat 19 balita mengalami gizi buruk, dan 588 balita lainnya mengalami gizi kurang.

Penyebabnya adalah pola konsumsi makanan yang tidak bergizi, ekonomi keluarga, adanya penyakit penyerta hingga pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih sehat masih minim. 

Dalam bincang media mengenai upaya pengentasai stunting yang dilakukan secara virtual pada Jumat (17/9), hadir Ketua TP PKK Kabupaten Indragiri Hilir Zulaikha Wardan, Kabid PPM di Bappeda Mashudi dan Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Indragiri Hilir Rini.

Dalam kesempatan itu, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Kabupaten Indragiri Hilir menjelaskan mengenai Gerakan Satu Hati sebagai upaya bersama untuk mengatasi stunting. 

Gerakan Satu Hati (GSH) merupakan upaya massive dengan menggerakkan seluruh komponen masyarakat, pemerintah hingga swasta. Gerakan ini mengajak seluruh lapisan masyarakat, di mana hasilnya digunakan untuk pemenuhan gizi anak-anak terutama balita.

Terlebih, di tengah pandemi Covid-19 yang mengakibatkan terbatasnya anggaran pemerintah, termasuk untuk kebutuhan penanggulangan stunting

“Melalui Gerakan Satu Hati, kami mengajak ASN atau pegawai negeri dan juga pihak swasta untuk berdonasi di mana hasilnya digunakan untuk membeli susu dan makanan tambahan sesuai rekomendasi Dinas Kesehatan dan digunakan untuk pemenuhan gizi anak-anak yang mengalami gizi buruk," kata Julaikha. 

"Selain itu kami juga melakukan edukasi kepada keluarga agar mereka mau mengikuti anjuran dari kader dan penyuluh, maka ini akan berhasil, gizi anak akan membaik” jelas Zulaikha, yang sekaligus sebagai ketua program GSH. 

Hingga saat ni, total dana terkumpul sekitar 237 juta, baik dari donassi PNS, perbankan dan pihak lainnya yang tidak mengikat.

Hasilnya, Kabupaten Indragiri Hilir telah berhasil menurunkan prevalensi stunting, dari yang sebelumnya 18,34%, kini menjadi saat ini 3,75%. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT