16 September 2021, 19:40 WIB

Tenaga Kesehatan di Pegunungan Bintang Turun ke Jalan, Ekspresi Duka bagi Mendiang Suster Gabriela


Marcelinus Kelen | Nusantara

RATUSAN tenaga kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua,  Kamis (16/9) menggelar aksi long march turun ke jalan. Mereka juga menyalakan 1.000 lilin tanda duka cita atas gugurnya Suster Gabriela
Meilani, rekan sejawat mereka akibat kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Kiwirok pada Senin (13/09) lalu.

Kapolres Pegunungan Bintang Ajun Komisaris Besar Cahyo Sukarnito  mengatakan aksi damai itu dipimpin oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang Sabinus Uropmabin. Aksi dimulai pada
pukul 15.00 WIT hingga pukul 18.00 WIT dengan rute sepanjang jalan protokol di Kota Oksibil, ibu kota Pegunungan Bintang.

"Rute aksi diawali dari Jalan Kabiding menuju Pertigaan Mabilabol. Mereka melanjutkannya dengan pembacaan pernyataan sikap dan membakar 1.000 lilin. Setelah itu, massa kembali berjalan kaki dan memasang bendera hitam sebagai tanda duka atas rekan sejawat yang tewas saat mengabdi di Distrik Kiwirok," katanya.

Peristiwa pilu terjadi pada Senin (13/9) pagi. Saat itu, terjadi
penyerangan dan pembakaran yang dilakukan oleh KKB di Distrik Kiwirok yang menyebabkan beberapa tenaga kesehatan, yakni dokter, mantri dan perawat, jadi korban.

Salah satu dari mereka gugur, yakni Suster Gabriela Meilani yang baru berusia 22 tahun. Hingga kini jenazah belum bisa dievakuasi karena sulitnya medan karena berada di kedalaman sekitar 500 meter. Selain itu, cuaca di Kiwirok tidak mendukung untuk dilaksanakan evakuasi.

Aksi damai berakhir di halaman Polres Pegunungan Bintang. Aksi ditutup dengan doa bersama para tenaga kesehatan, tokoh agama, kapolres dan personel Polres Pegunungan Bintang.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh Sabinus Uropmabin, mereka menyatakan, tenaga kesehatan adalah garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, yang seharusnya dilindungi oleh negara dan seluruh lapisan masyarakat.

"Para nakes prihatin dan menyesalkan aksi kekerasan yg dialami para sejawat di Distrik Kiwirok yang menimbulkan korban jiwa serta satu nakes belum diketahui nasibnya," ungkapnya.

Dengan ditariknya nakes dari distrik dan kampung yang rawan, pelayanan kesehatan untuk masyarakat secara otomatis berhenti. "Jangan salahkan para nakes karena ini bukan kehendak kami. Para nakes hadir dan melayani di Kabupaten Pegunungan Bintang bukan untuk membunuh apalagi dibunuh," tambah Sabinus. (N-2)

BERITA TERKAIT