15 September 2021, 10:23 WIB

Pemkab Aceh Selatan Berencana Buka Objek Wisata Ranto Sialang


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

PEMERINTAH Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, berminat untuk membuka wisata orangutan liar di kawasan Ranto Sialang, Kecamatan Kluet Selatan. Objek wisata fauna orangutan itu juga bisa dijadikan sebagai lokasi edukasi anak sekolah untuk mengenal hewan primata hidup liar.

Catatan Media Indonesia, Ranto Sialang adalah kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) berjarak sekitar 90 km (kilometer) dari Tapak Tuan ibu kota Kabupaten Aceh Selatan. Sekitar 10 km dari Ranto Sialang juga terbentang Danau Bangko di tengah lebatnya hutan rimba kawasan Gunung Leuser.

"Ke depan digalakkan bukan wisata bangunan bertingkat, tapi wisata alam terbuka," kata Bupati Aceh Selatan Teungku Amran.

Ranto Sialang yang dikenal masih hutan rimba TNGL itu didiami orangutan dan jauh dari kebisingan kota. Hewan primata liar yang dilindungi Undang-undang tersebut sering telihat sedang berayun di atas pepohonan rimba. Asalkan manusia tidak mengganggu habitatnya dan jangan mengusik kenyamanan mereka, tidak sulit menemui si bulu pirang itu.

Mahasiswa Kedokteran USK (Universitas Syiah Kuala) Banda Aceh, Ghina Zuhaira, kepada Media Indonesia, Selasa (14/9), menyambut baik rencana Bupati Aceh Selatan Teungku Amran menjadikan Ranto Sialang sebagai lokasi wisata orangutan. Apalagi wisata hewan liar cukup menyenangkan dan menjadi tempat menghilangkan penat kala berlibur.

Tapi itu bukanlah bermuara untuk mempoleh pendapatan semata. Ada keaslian alam dan kelestarian lingkungan, tidak boleh terusik oleh aktivitas manusia.

Baca juga: Bayi Orangutan yang Lahir di Gembira Loka Zoo Makin Sehat

Menurut Ghina, ada beberapa hal yang perlu diindahkan bila cita-cita lokasi wisata itu tercapai. Antara lain adalah dilarang terlalu bising hingga kenyamanan hewan liar terganggu. Lalu hindari berbusana berwarna mencolok yang dapat menacing hewan menyerang atau kabur.

Lalu, jangan membuang sampah sembarangan apalagi sampai mengganggu kehidupan penghuni rimba. Pun harus menghindari penggunaan parfum yang menyengat. Apalagi hewan liar mempunyai penciuman tajam sehingga terpancing menerkam.

"Kalau pengunjung ingin berfoto atau mengambil momen bagus hewan liar perlu berkonsultasi dengan pemandu lapangan. Paling penting jangan bawa pulang benda atau flora dan fauna kekayaan alam di lokasi," tutur Ghaina Zuhaira.(OL-5)

BERITA TERKAIT