15 September 2021, 08:58 WIB

Madu Alam Hutan Meratus Terus Diburu


Denny Susanto | Nusantara

SUASANA di pusat penjualan Hasil Hutan Non Kayu (HHBK) di Kota Tanjung milik Kesatuan Pengelolaan Hutan Tabalong cukup ramai dikunjungi pembeli. Beragam produk hasil hutan selain kayu dan produk UMKM lokal berkualitas dipamerkan dan dijual dengan harga terjangkau.

Mulai dari hasil hutan seperti madu, kerajinan, rempah dan obat-obatan tradisional, produk pangan olahan hingga kain batik khas daerah dijual di Outlet HHBK KPH Tabalong.

"Yang banyak diburu para pengunjung adalah obat-obatan herbal tradisional dan madu. Seringkali kami kehabisan stok," kata pengelola Outlet HHBK KPH Tabalong Julia.

Produk madu alam yang banyak diburu warga ini juga berhubungan dengan kondisi pandemi covid-19, madu diyakini mampu menjaga kesehatan dan meningkatkan imun tubuh. Terlebih produk madu yang dijual adalah asli, membuat penjualan madu lebah (wanyi) dan madu kelulut ramai dibeli.

Tingginya permintaan akan madu ini membuat harga madu saat ini cukup menjanjikan. Harga madu kelulut di pasaran berkisar Rp100 ribu per botol kecil, madu manis Rp200 ribu per liter dan madu hutan alam atau madu hitam Rp220 ribu per liter. Mencari madu hutan dan madu budi daya menjadi profesi sampingan sebagian warga sekitar hutan.

Kabupaten Tabalong sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil hasil hutan non-kayu seperti madu dan buah-buahan lokal. Karenanya buah langsat menjadi ikon daerah berjuluk Saraba Kawa ini. Namun seiring semakin berkurangnya luas tutupan hutan dan lahan, produksi madu terutama madu alam ikut berkurang.

Baca juga:  Begini Cara Membedakan Madu Asli dan Palsu

Kepala KPH Tabalong Heryadi mengatakan kawasan hutan di Kabupaten Tabalong seluas 346 ribu hektare memiliki potensi hasil hutan nonkayu yang cukup besar seperti madu, rotan, damar, buah lokal, sarang walet dan lainnya. Di sisi lain gangguan keamanan terhadap kawasan butan berupa praktik ilegal logging masih marak terjadi sehingga upaya peningkatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk HHBK menjadi sangat penting.

Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan di masa datang hasil hutan bukan kayu jika dikelola dengan baik akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Potensinya besar dan memiliki peran signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan ekonomi lokal, dan kelestarian hutan," ujar Siti Nurbaya beberapa waktu lalu.

Ragam komoditas hasil hutan bukan kayu yang banyak dihasilkan antara lain daun kayu putih, kopi, pasak bumi, getah, bambu, madu, rumput gajah, gula aren, damar, gaharu dan sebagainya. Potensi HHBK sebesar 66 juta ton, dengan produksi pada 2020 sebesar 558.000 ton.(OL-5)

BERITA TERKAIT