14 September 2021, 21:00 WIB

Ribuan Ternak Babi Di Sikka Mati Akibat Wabah Virus ASF


Gabriel Langga | Nusantara

SEJAK dua tahun terakhir ini wabah penyakit African Swine Fever (ASF) telah menyerang ternak babi milik warga Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Akibatnya saat ini babi yang masih hidup masih tersisa 10 persen. Hingga saat ini juga Kabupaten Sikka masih masuk zona merah serangan virus ganas yang belum ada vaksinnya ini.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha kepada mediaindonesia.com, Selasa (14/9) mengaku babi hidup tersisa 10 persen saja dari 70 ribu ekor babi di Kabupaten Sikka.

"Babi kita banyak yang mati akibat virus ASF ini. Apalagi belum ada vaksinnya. Pokoknya babi masih hidup di kita saat ini sisa 10 persen dari 70 ribu ekor babi. Ini data bulan Mei 2021" ujar dia.

Menurut dia, hewan babi ini bagi warga Kabupaten Sikka ada nilai ekonomi, nilai sosial dan nilai budayanya. Akibatnya masyarakat saat ini menjadi kesulitan mendapatkan babi saat ini. Meskipun mereka mendapatkan babi dengan harga yang mahal sekali. "Saat ini warga kesulitan untuk ternak babi. Kalau dapat juga dengar harga mahal," tandas Mauritz

Ditambah lagi, kata dia, bahwa babi yang masuk ke Kabupaten Sikka harus memiliki sertifikat bebas ASF yang dikeluarkan dari balai besar yang di Denpasar, Bali. "Sekarang babi yang masuk di Sikka tidak boleh sembarang. Harus ada sertifikat bebas ASF. Kemudian kalau ambil sampel hari ini, misalnya negatif. Hasil negatif itu juga tidak menjamin," papar Mauritz

Ia pun mengaku hingga saat ini belum ada obat untuk atasi virus ASF. "Yang kita lakukan saat ini hanya bisa pengaturan lalu lintas hewan. Tujuannya kita cegah supaya virus dari luar jangan masuk ke kabupaten atau masuk ke kecamatan atau ke desa atau ke satu kandang," pungkas dia. (OL-15)

BERITA TERKAIT