14 September 2021, 19:01 WIB

Jerit Kepala Sekolah Di Lembata, PTM 120 Siswanya di Bawah Pohon


Alexander P. Taum | Nusantara

BERNADUS Butu, Kepala SDK Lewotolok Satu, Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Senin (13/9) menjerit saat mengisahkan kesulitannya mendidik 120 siswa yang masih menempati titik pengungsian mandiri pascabencana badai Seroja April 2021 lalu.

Kepala SDK Lewotolok 1 itu meminta bicara dalam sesi dialog saat Anggota DPR RI, Sulaiman L. Hamzah berkunjung ke Duliwoho, salah satu titik pengungsian mandiri warga terdampak badai Seroja di Duliwoho, Desa Tanjung Batu, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Pasalnya, sejak bangunan fisik sekolahnya hancur lebur diterjang banjir bandang, dirinya bersama 15 guru, masih dapat menggelar pembelajaran dengan cara mengunjungi siswa dari pos pengungsian ke pos pengungsian lain.

Baca jugaPemkab Tuban Gelar Tes Antigen dan Vaksinasi Peserta Ujian PPPK

"Itu langkah kami ambil Karena kebijakan pemerintah untuk melaksanakan pembelajaran daring karena covid," ujar Bernadus Batu, Kepala SDK Lewotolok 1.

Namun, pihaknya sungguh mengalami kesulitan, setelah Pemda Lembata mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) akibat wabah Covid mulai melandai.

Di hadapan Sulaiman L. Hamzah, kader Partai Nasdem yang saat ini berkiprah di komisi IV DPR RI Senayan,  Kasek Bernardus Butu, 
menjelaskan, saat ini dirinya terpaksa melakukan PTM kepada 120 siswanya di bawah pohon, karena berbagai bantuan terpal untuk sekolah darurat sudah rusak karena angin kencang.

"Selama 1 tahun lebih, nasib anak anak kami tidak menentu. Kami butuhkan 12 tenda untuk kelas Covid. Banyak kebutuhan dibantu LSM dan orang-orang yang berniat baik. Kalau bisa minta bantuan, karena saat ini hanya tersisa 3 terpal utuh karena angin tanggal 6-8 September 2021 kemarin. Kami sekarang belajar di bawah pohon tetapi kami sehari-hari urus 120 anak sekolah. Kami juga butuh 8 buah papan tulis agar bisa membantu guru mengajar di kelas. Ini saya sedang tahan menangis Pak karena kami sangat sengsara, apalagi mau musim hujan," ujar Bernadus.

Baca juga: 1.948 Ibu Hamil di Sikka Disuntik Vaksin Covid-19 Serentak

Kepala Sekolah ini pun meminta bantuan kepada Sulaiman L. Hamzah. 

"Kalau bisa selamatkan 120 anak SDK Lewotolok 1 dulu. Dinas PKK sudah bantu buat WC darurat," ujar Bernadus. Kepada Media Indonesia, Bernadus menjelaskan, saat ini 30 siswa SDK Lewotolok 1 sudah pulang ke kampung yang disebutnya sebagai klaster Kampung. Ke 30 anak itu mengikuti PTM di rumah warga, sedangkan sebanyak  80 anak mengikut PTM di sekolah darurat, Duli Woho, Desa Tanjung Batu.

Sulaiman L. Hamzah menyanggupi untuk memberikan sumbangan pembangunan sekolah darurat SDK Lewotolok 1.

Di hadapan ratusan pengungsi di Duliwoho, Desa Tanjung Batu, Sulaiman  menyebut, dirinya siap menyumbangkan 8 buah papan white board, seng 200 lembar dan uang tunai 20 juta rupiah.

Dirinya meminta kepala sekolah berkoordinasi dengan kepala desa untuk mengerjakan sekolah darurat itu.

"Saya jadi orang karena SDK Lewotolok 1. Sebetulnya Pemda kabupaten mendahulukan itu. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban Bapak Kepala Sekolah, guru dan para siswa menghadapi PTM," ujar Sulaiman. (H-3)

BERITA TERKAIT