13 September 2021, 07:20 WIB

Siap Penuhi Permintaan Pasar, SBMA Naikkan Kapasitas Produksi


Mediaindonesia.com | Nusantara

KEBUTUHAN masyarakat khususnya industri akan gas di masa depan diperkirakan akan semakin meningkat. Hal itu karena tuntutan masyarakat sendiri akan berbagai kebutuhan yang dihasilkan industri.

Itu sebabnya PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA), produsen gas industri, optimistis bisnisnya ke depan akan kian meningkat pesat seiring dengan permintaan yang terus mengalir. Hal ini sejalan dengan kenaikan aktifitas tambang batubara dan migas yang terjadi saat ini. Diketahui saat ini harga batubara mencapai US$150 per metric ton dan diperkirakan akan meningkat.

Baca juga: Industri Sawit Buka Lapangan Kerja bagi 6,2 Juta Petani

Direktur Operasional SBMA, Iwan Sunyoto mengatakan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang diperkirakan terus meningkat ini, SBMA siap meningkatkan volume produksinya dari 2 juta liter per tahun menjadi 10 juta liter per tahun atau naik lima kali lipat. Untuk itu perseroan siap menambah tiga unit lorry tank, 50 tabung vgl oxygen dan investasi 5.000 tabung. Untuk itu manajemen mengalokasikan dana sebesar 37% dari hasil IPO (Initial Public Offering) atau penawaran umum perdana yang dilakukan pada 8 September.

"Kami yakini pemakaian produk gas industri untuk menunjang kegiatan operasional tambang pasti akan tumbuh dengan pesat," ujar Iwan dalam keterangannya, Minggu (12/9).

Perusahaan yang menjadi market leader untuk produk tabung migas, minerba dan petrokimia itu berharap dengan kapasitas produksi yang ditingkatkan bisa memenuhi kebutuhan pelanggannya sehingga produktifitasnya turut meningkat. Beberapa produk SBMA yang paling banyak diminati pasar yaitu oksigen, asetilen, Argon, nitrogen, karbondioksida.

Mengacu pada penjualan tahun lalu, segmen pasar yang paling banyak pesan gas adalah industri tambang sebesar 26%, Engineering Procurement and Constuction (EPC) sebesar 11%, reseler 11%. Kemudian industri migas, industri permesinan dan baja, serta industri galangan kapal masing-masing 10%. Untuk industri Petrokimia menyerap 20%, rumah sakit 2% dan laboratorium 7%.

Ditegaskannya bahwa pasar construction (EPC) terus menunjukkan pertumbuhan yang meningkat. Hal ini terjadi seiring mulai bergairahnya project RDMP (Refinery Development Master Plan) Pertamina yang sempat melambat saat gelombang kedua pandemi covid 19.

"Jenis produk yang harus disiapkan oleh perseroan untuk mendukung project RDMP ini adalah jenis Argon, Oxygen dan acetylene," pungkasnya.

Saat ini, SBMA memiliki enam jaringan tranportasi dan distribusi yang tersebar di seluruh Kalimantan seperti di Samarinda, Berau, Bontang, Tarakan, Tanjung dan Nunukan. Dengan memanfaatkan dana hasil IPO, perseroan akan menambah jumlah stasiun-stasiun distribusi berupa filling station dan distribution hub di beberapa titik yang berdekatan dengan pelanggannya.

Diharapkan penambahan fasilitas tersebut bisa mendukung kelancaran penyaluran gas kepada pelanggan yang selama ini hanya mengandalkan enam jaringan yang ada. Beberapa pelanggan loyal seperti Pertamina (Persero), PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pama Persada Nusantara, PT Darma Henwa, PT Kukar Mandiri Shipyard, PT Trakindo Utama. (RO/A-1)

 

BERITA TERKAIT